PENANGANAN DAN
PENGEMASAN HASIL TERNAK
Faktor Perusak Bahan Pangan
Unsur
perusak menurut jenisnya dapat dibagi-bagi sebagai berikut :
1. Alam, terdiri dari sinar matahari(UV),
panasnya suhu udara maupun panas buatan, gas-gas dari udara (gas oksigen), lembabnya udara, tekanan udara, terutama penurunan tekanan,
debu, air, terutama air laut.
2.
Mikroba,
meliputi bakteri, ragi, kapang, jamur, dll.
3.
Produk
itu sendiri, yaitu reaksi kimia yang belum berhenti, reaksi biokimia yang belum
berhenti, reaksi alamiah produknya sendiri.
4.
Binatang,
meliputi ngengat, serangga, tikus dan lainnya.
5.
Gaya
mekanis, meliputi tekanan, desakan, hempasan, bantingan, gesekan, getaran,
putiran, tusukan, dll.
Unsur perusak dari alam pada umumnya dapat dikurangi
pengaruhnya oleh kemasan inti. Panasnya udara sedikit di atas atau di bawah
suhu rata-rata udara masih dapat ditanggulangi dengan kemasan, namun beda yang
banyak harus dibantu dengan alat pendingin atau oleh sistim
pergudangan/transportasinya. Mikroba-mikroba dari luar jelas dapat dicegah
untuk dapat menerobos kemasan. Mikroba yang telah berada dalam kemasan masih
dapat ditekan laju pertumbuhannya atau kemampuan perusaknya dengan mencegah
masuknya unsur pengaktif mikroba tersebut, misal bertambahnya kelembaban,
masuknya oksigen, atau masuknya sinar matahari, dan sebagainya.
Pada bahan pangan terdapat unsur perusak dari sifat
produknya sendiri, kemasan tidak dapat berbuat banyak. Dapat berbuat sesuatu
asal didampingi dengan usaha-usaha lainnya. Juga terhadap unsur perusak
binatang, kemasan tidak dapat berbuat banyak. Bahkan kadang kadang ada bahan
kemasan yang disukai oleh binatang. Sedangkan unsur perusak gaya mekanis dapat
dikurangi pengaruh perusaknya terutama dari keamasan transportasinya. Unsur
perusak ini terutama timbul pada saat penimbunan di gudang dan pada saat di
transportasikan/diekspor.
Pengemasan
Pengemasan (Pembungkusan/Pewadahan/pengepakan)
merupakan wadah atau pembungkus yang
dapat membantu mencegah atau mengurangi terjadinya kerusakan-kerusakan pada
bahan yang dikemas / dibungkusnya. Kemasan
adalah suatu komponen yang berfungsi untuk menempatkan suatu hasil pengolahan
produk, sehingga mempunyai bentuk yang memudahkan dalam penyimpanan,
pengangkutan dan pendistribusian dari produsen ke tangan konsumen serta dapat
memberikan perlindungan terhadap mutu produk yang dikandungnya sekaligus
melindungi bahan dan barang di dalamnya terhadap kontaminasi dari luar.
Unsur-unsur yang terdapat pada kemasan, yaitu segala
sesuatu yang tercantum pada suatu kemasan, baik yang terlihat seperti ukuran,
desain, warna dan bahan maupun hal-hal yang terdapat dalam kemasan seperti
komposisi, manfaat, tanggal kadaluarsa, harga, takaran, cara penggunaan dan
sebagainya.
Tujuan
Pengemasan
Secara umum tujuan dari pengemasan adalah untuk melindungi
komoditas dari kerusakan mekanik, tidak menghambat lolosnya panas bahan dan
panas pernapasan dari produk, serta mempunyai kekuatan konstruksi yang cukup
untuk mengatasi penanganan dan pengangkutan yang wajar.
pengemasan dapat
mengurangi kehilangan kandungan air (pengurangan bobot), dengan demikian dapat
mencegah terjadinya dehidrasi, terutama jika digunakan bahan penghalang yang
kedap uap air. Hal ini dapat mempertahankan umur komoditas karena turunnya kandungan
air akan menyebabkan kelayuan atau kisutnya bahan yang merupakan sebab
hilangnya kesegaran, penampakan tekstur dan kemungkinan laku dijual.
Sampai batas tertentu kemasan dapat melindungi
produk di dalamnya dari unsur perusak dari luar. Sebagaimana telah diketahui
secara umum, pada umumnya produk olahan, setelah selesai dimasak, bila
dibiarkan diudara terbuka akan cepat turun mutunya karena terangsang oleh unsur
perusak dari luar. Produk-produk lainpun akan rusak bila disimpan di gudang
atau ditransportasikan tanpa pelindungan (kemasan) yang sesuai.
Kemasan, sampai batas tertentu memang dapat
mengurangi pengaruh buruk dari unsur perusak dari luar. Dengan demikian produk
didalamnya akan dapat lebih lama bertahan dalam kondisi yang baik.
Manfaat
Kemasan
Pemberian
kemasan pada suatu produk dapat memberikan tiga manfaat , yaitu:
1. Manfaat Komunikasi.
Sebagai
media pengungkapan informasi produk kepada konsumen (cara penggunaan produk,
komposisi dan informasi khusus).
2. Manfaat Fungsional
Sebagai
pemastian peranan fungsional penting, seperti memberikan kemudahan,
perlindungan dan penyimpanan.
3. Manfaat Perseptual
Kemasan
bermanfaat dalam menanamkan persepsi tertentu dalam benak konsumen.
Fungsi paling mendasar dari kemasan
adalah untuk mewadahi dan melindungi produk dari kerusakan-kerusakan, sehingga
lebih mudah disimpan, diangkut dan dipasarkan. Secara umum fungsi pengemasan
pada bahan pangan adalah :
- Mewadahi produk selama distribusi dari produsen hingga kekonsumen, agar produk tidak tercecer, terutama untuk cairan, pasta atau butiran
- Melindungi dan mengawetkan produk, seperti melindungi dari sinar ultraviolet, panas, kelembaban udara, oksigen, benturan, kontaminasi dari kotoran dan mikroba yang dapat merusak dan menurunkan mutu produk.
- Sebagai identitas produk, dalam hal ini kemasan dapat digunakan sebagai alat komunikasi dan informasi kepada konsumen melalui label yang terdapat pada kemasan.
- Meningkatkan efisiensi, misalnya : memudahkan penghitungan (satu kemasan berisi 10, 1 lusin, 1 gross dan sebagainya), memudahkan pengiriman dan penyimpanan. Hal ini penting dalam dunia perdagangan.
- Melindungi pengaruh buruk dari luar, melindungi pengaruh buruk dari produk di dalamnya, misalnya jika produk yang dikemas berupa produk yang berbau atau produk yang dapat menularkan warna, maka dengan mengemas produk ini dapat melindungi produk-produk lain di sekitarnya.
- Memperluas pemakaian dan pemasaran produk, misalnya penjualan keju dan sossis mengalami peningkatan sebagai akibat dari penggunaan kemasan botol plastik.
- Menambah daya tarik calon pembeli
- Sarana informasi dan iklan
- Memberi kenyamanan bagi pemakai.
Jenis
Kemasan
Bahan
hasil ternak mudah mengalami perubahan bentuk dan mutu akibat pengaruh oksigen,
kelembaban, mikroorganisme, dll. Kelembaban lingkungan yang tinggi akan
mengakibatkan kadar air bahan meningkat sehingga produk pengolahannya menjadi
media yang baik bagi pertumbuhan jamur atau aktivitas mikroorganisme lainnya.
Pertumbuhan jamur dan aktivitas mikroba mengakibatkan penurunan mutu produk.
Penguraian yang tidak terkontrol
akan mengakibatka kebusuka pada produk. Oleh karena itu dalam penyimpanan
produk harus memperhatikan suhu, kelembaban, kadar air bahan, serta wadah
penyimpanan produk.
Jenis pengemasan meliputi :
1) Pengemasan vakum
Pengemasan vakum
adalah pengeluaran semua udara di dalam kemasan tanpa diganti dengan gas lain.
Dengan demikian akan terjadi perbedaan tekanan antara bagian dalam kemasan
dengan bagian luar. Proses respirasi dilakukan oleh buah yang dikemas akan
semakin menghabiskan oksigen di dalam kemasan sehingga menambah kondisi vakum.
Tetapi selain itu, juga dihasilkan CO2 dan air. Sehingga dalam prakteknya
kemasan vakum akan menjadi kemasan atmosfir termodifikasi.
Pengemasan vakum diperlukan untuk mengeluarkan oksigen dari kemasan dan
menambah umur simpan. Plastik yang digunakan dalam pengemasan vakum yaitu
plastik yang mempunyai permeabilitas O2 yang rendah dan tahan terhadap bahan
yang dikemas.
pengemasan vakum dengan menggunakan bahan yang fleksibel
merupakan proses pelepasan udara dari sekeliling produk. Hal ini dapat
disempurnakan dengan dua jalan yaitu : dengan memompa udara dari kemasan atau
dengan menekan dinding dari kemasan untuk memaksa udara keluar. Dengan cara
tersebut biasanya dapat mengurangi sejumlah oksigen dibawah dua persen.
2) Pengemasan Atmosfer Termodifikasi
Menurut Park et al (1996), pada prakteknya ada dua
macam system pengemasan atmosfir termodifikasi, yaitu cara aktif dan cara
pasif. Dalam pengemasan atmosfir termodifikasi cara pasif, kesetimbangan CO2
dan O2 didapat melalui pertukaran udara dalam kemasan. Untuk mendapatkan dan
mempertahankan komposisi udara yang sesuai dalam kemasan, permeabilitas film
yang dipilih harus diupayakan agar memungkinkan O2 untuk memasuki film dan
diimbangi oleh konsumsi O2 oleh komoditas. Demikian pula CO2 dikeluarkan dari
film kemasan untuk mengimbangi produksi CO2 oleh komoditas. Dalam penyimpanan
hasil pertanian dikenal juga teknik pengaturan udara disekeliling produk yang
disimpan, cara yang sudah dikenal antara lain penyimpanan dengan pengendalian
atmosfir (Controlled Atmosphere Storage), penyimpanan dengan modifikasi
atmosfir (Modified Atmosphere Storage), dan penyimpanan hipobarik (Hipobarik
Storage).
Penyimpanan
dengan modifikasi atmosfir adalah penyimpanan dimana tingkat konsentrasi gas O2
lebih rendah dan tingkat konsentrasi gas CO2 lebih tinggi dibandingkan dengan
kondisi atmosfer suhu ruang melalui pengaturan pengemasan yang akan
menghasilkan kondisi tertentu melalui interaksi penyerapan dan pernapasan
komoditi yang disimpan. Sedangkan pada penyimpanan dengan pengendalian
atmosfir, pengaturan kandungan O2 dan CO2 pada kondisi tertentu dilakukan
dengan pengendalian terusmenerus melalui peralatan penunjangnya (Luo et al, 2004). Pengaruh rendahnya O2 dan
tingginya CO2 dalam udara penyimpanan akan dapat memperlambat respirasi,
pematangan buah, menurunkan laju respirasi, menurunkan laju produksi etilen,
memperlambat pembusukan, dan menekan berbagai perubahan yang berhubungan dengan
pematangan (Park et al, 1996).
Setidaknya
ada beberapa jenis kemasan yang secara bentuk dan fungsinya berbeda-beda
berdasarkan kebutuhannya. Menurut Kotler (1997). Kemasan dibagi tiga tingkatan,
yaitu:
a.
Kemasan
primer berfungsi sebagai wadah kemasan yang langsung
menyentuh produk bersangkutan.
b.
Kemasan
sekunder mengacu pada bahan yang melindungi kemasan primer dan dibuang kalau
produk tersebut hendak digunakan.
c.
Kemasan
pengiriman, mengacu pada kemasan yang diperlukan
untuk
menyimpan, identifikasi atau transportasi.
Kemasan Film/Plastik
Plastik
dibuat dengan cara polimerisasi yaitu menyusun dan membentuk secara sambung
menyambung bahan-bahan dasar plastik yang disebut monomer. Misalnya, plastik
jenis PVC (Polivinil Chlorida), sesungguhnya adalah monomer dari vinil
klorida. Disamping bahan dasar berupa monomer, di dalam plastik juga terdapat
bahan non plastik yang disebut aditif yang diperlukan untuk memperbaiki
sifat-sifat plastic itu sendiri. Bahan aditif tersebut berupa zat-zat dengan
berat molekul rendah, yang dapat berfungsi sebagai pewarna, antioksidan,
penyerap sinar ultraviolet, anti lekat, dan masih banyak lagi.
Bahan
plastic banyak digunakan, hal ini disebabkan karena plastic kuat tetapi ringan,
tidak berkarat, bersifat termoplastis, yaitu dapat direkat menggunakan panas,
serta dapat diberi label atau cetakan dengan berbagai kreasi. Selain itu
plastik juga mudah untuk diubah bentuk.
Jenis
kemasan plastik/film:
a. Politen/Polietilen
(PE)
Merupakan
polimerasi adisi gas etilen dari hasil samping industri minyak. Ada tiga jenis,
Low Density Polyethylene (LDPE) yang
mudah dikelim dan murah, Medium Density
Polyethylene (MDPE) yang lebih kaku dari LDPE dan lebih tahan
suhu tinggi, dan High Density
Polyethylene (HDPE) yang paling kaku dan tahan suhu tinggi (suhu
120°C). Sifat umum dari PE adalah mempunyai penampakan bervariasi dan
transparan, berminyak; mudah dibentuk, lemas, gampang ditarik; daya rentang
tinggi tanpa sobek; mudah dikelim panas; tidak cocok untuk bahan berlemak,
gemuk, minyak; tahan terhadap asam, basa, alkohol, deterjen; untuk penyimpanan
beku (-50°C); transmisi gas cukup tinggi (untuk makanan beraroma); serta kedap
air dan uap air.
b. Poliester/Polietilen
Tereptalat (PET)
Biasa digunakan untuk
kemasan buah kering, makanan beku dan permen. Sifat umumnya antara lain
transparan, bersih, jernih; adaptasi suhu tinggi (suhu 300°C) sangat baik;
permeabilitas uap air dan gas sangat rendah; tahan pelarut organik; serta tidak
tahan asam kuat, phenol, benzil alkohol.
c. Polipropilen
(PP)
Syarat
utama PP antara lain ringan, mudah dibentuk, transparan, jernih (kemasan kaku
tidak transparan); kekuatan tarik lebih besar dari PE, suhu rendah, rapuh,
mudah pecah; lebih kaku dari PE, tidak mudah sobek; permeabilitas uap air
rendah, permeabilitas gas sedang; tahan suhu tinggi (150°C) terutama untuk
makanan sterilisasi; titik leleh tinggi, sulit dibuat kantung; tahan terhadap
asam kuat, basa dan minyak; pada suhu tinggi bereaksi dengan benzena, siklen,
toluen, terpentin, asam nitrat kuat..
d. Polistirene
(PS)
Sifat utamanya adalah
kekuatan tarik dan tidak mudah sobek; titik lebur rendah (80°C); tahan asam,
basa; terurai dengan alkohol, ester, keton, klorin, hidrokarbon aromatik;
permeabilitas uap air dan gas sangat tinggi; mudah dicetak, licin, jernih,
mengkilap; keruh jika kontak dengan pelarut, mudah menyerap pemlastik; afinitas
tinggi terhadap debu dan kotoran; serta baik untuk bahan dasar laminasi dengan
logam.
e. Polivinil
Khlorida (PVC)
Ada tiga jenis yaitu
plasticized vinyl chloride, vinyl co polimer, dan oriented film. Sifat umumnya
adalah tembus pandang; permeabilitas gas dan uap air rendah; tahan terhadap
minyak, alkohol dan petroleum; kekuatan tarik tinggi, tidak mudah sobek; dapat
dipengaruhi hidrokarbon aromatik, keton, aldehid, ester, dan lain-lain; serta
mempunyai densitas 1.35 – 1.4g/cm3.
f. Saran/Poliviniliden
Khlorida (PVDC)
Sifat umum PVDC saran
antara lain adalah transparan, luwes, jernih, beragam; tahan terhadap bahan
kimia, asam, basa, minyak; sekat lintasan yang baik untuk sinar UV;
permeabilitas gas dan uap air sangat rendah; tahan terhadap pemanasan kering
atau basah; serta tidak baik untuk kemas beku. Sedangkan sifat umum PVDC
cryovac, yakni mempunyai permeabilitas uap air dan gas rendah; mengkerut jika
kena panas; tahan suhu rendah (-40°C); tahan tekanan tinggi (vakum); mudah
dicetak, licin, transparan; tidak mudah dibakar; mudah dikelim panas.
g. Selopan
Sifat umum selopan
adalah transparan, terang; tidak termoplastik, tidak bisa direkat dengan panas;
tidak larut air, minyak, tidak melalukan O2; mudah retak pada RH dan suhu
rendah; mudah dilaminasi; mudah dirobek; dan mengkerut pada suhu dingin. Ada
beberapa kode atau jenis selopan, yaitu A/B (Anchored); C (Colored); D (du
Pont); L (kedap air sedang); M (kedap uap air); O (dilapisi sebelah); P (tidak
dilapisi); R (dilapisis dengan vinil); S (direkat dengan panas); T (tembus
pandang); V, X/K (dilapisi dengan polimer saran); WO (White Opaque).
h. Film
Plastik
Contoh dari plastik
film adalah film larut air dan dapat dimakan, yaitu amilosa pada bungkus permen
dan sosis; selulosa asetat butirat, selulosa asetat propionat; selulosa nitrat
dan selulosa triasetat; klorotrifluoroetilin (peralatan bedah); etilen buten
(mirip HDPE); fluoro karbon (teflon, tahan bahan kimia); ionomer (kemasan
vakum); polivinil alk (untuk produk kering); polietilen oksida (kemasan
tepung); polialomer (karakter antara HDPE dan PP); dan Hfilm (toleransi
terhadap suhu cukup besar, sekitar 269 - 400°C, tahan terhadap radiasi sinar
X).
Kemasan
Film Untuk Makanan Dan Minuman
a) Produk Susu
Kemasan yang terbaik
adalah LDPE dan HDPE. LDPE digunakan dengan cara membentuknya mengisi dan di-seal,
sedangkan HDPE digunakan untuk ukuran besar. Untuk produk keju lebih baik
digunakan nilon/PE, selulosa/PE, PET/PE, selo/saran/PE, PET/saran/PE, nilon/PE.
b) Daging dan Ikan
Daging segar lebih
baik dikemas dengan PVC/selopan, sehingga terlihat cerah, Untuk produk keju
lebih baik digunakan nilon/PE, selulosa/PE, PET/PE, selo/saran/PE, PET/saran/PE,
nilon/PE.
Kemasan
Logam
Karakterisitik
kemas logam antara lain konduktor tinggi, dapat ditempa, kilap logam, tidak
tembus pandang, densitas tinggi dan padat. Keunggulan kemas kaleng antara lain
kekuatan mekanik besar, barrier tinggi sehingga hermetis, toksisitas rendah,
tahan kondisi ekstrim dan permukaan ideal untuk pelabelan.
·
Tin Plate dan TFS
Jenis
kaleng dibedakan berdasarkan komponen pelapisan, cara pelapisan, dan komponen
baja utama, sehingga ada yang disebut kaleng pelat timah, kaleng TFS, kaleng 3
lapis dan kaleng lapis ganda. Kandungan Sn harus 1-1.25% dari berat kaleng.
Cara pelapisan bisa dengan celup atau elektrolisa.Tipe kaleng antara lain N:
ditambah 0.02% nitrogen untuk meningkatkan daya kaku dan untuk produk berkarbonat;
D: ditambah lapisan alumunium; dan 2 CR: cold reduce lebih ringan, dan untuk
bir dan sari buah.
Lapisan enamel
Lapisan enamel
merupakan lapisan non logam pada kaleng, melapisi metal (mencegah korosi),
melindungi kontak langsung dengan produk. Enamel dalam berfungsi untuk mencegah korosi, sedangkan
enamel luar berfungsi untuk mencegah korosi dan untuk dekorasi.
·
Alumunium dan Alufo
Alumunium merupakan
jenis logam yang lebih ringan dari baja, daya korosif rendah, mudah
dibengkokkan, mampu menahan masuknya gas, tidak berbau dan tidak berasa, dan
sulit disolder sehingga sambungan tidak rapat. Penggunaan alumunium secara
komersial, alumunium murni: kurang menguntungkan; perlu penambahan komponen
campuran untuk memperbaiki sifat-sifatnya dan meningkatkan daya tahan korosi;
bahan campuran (alloy) antara lain tembaga 0.15%, magnesium, mangan, khromium
0.1-0.3%, besi, seng dantitanium; manfaat lain alumunium untuk tutup kaleng
(tutup datar, penutup tipe mahkota, tutup sistem pembuka tarik, tutup sistem
pembuka cincin) dan tube logam lunak (collapsible tube).
Alumunium foil (Alufo)
Merupakan
bahan kemas dari lembaran alumunium yang padat dan tipis dengan ketebalan
<0.15 m. Mempunyai tingkat kekerasan berbeda, dimana tanda Oberarti sangat
lunak; H-n: keras (semakin tinggi bilangan, maka semakin keras). Kemasan ini
hermetis, tidak tembus cahaya, fleksibel, dan dapat dignakan sebagai bahan
pelapis atau penguat dilapisi dengan plastik atau kertas.
Retort Pouch
Kemasan
ini tahan suhu sterilisasi; mempunyai daya simpan tinggi; kuat; tidak mudah
sobek/tertusuk; teknik penutupan mudah; contoh: PP-Alufo-PET. Penggunaan
alumunium untuk kemasan pangan antara lain untu produk buahbuahan, produk
sayuran, produk daging, produk ikan, kerang, produk susu dan minuman.
·
Kemasan Aerosol
Kemasan ini terdiri dari tiga
bagian utama yaitu produk cair, propelan pendorong cairan dan gas. Jenis
kemasan aerosol ditentukan berdasarkan komposisi bahan (produk, propelan dan
gas) dan mekanisme pengeluaran produk.
1.
Aerosol satu fase
Terdiri dari produk
cair dan gas propelan dengan jumlah sama banyak. Gas propelan menekan produk
sehingga produk keluar melalui pipa dip dan membentuk seperti busa.
2.
Aerosol dua fase
Terdiri dari propelan cair yang
larut dalam produk (emulsi produkpropelan) dan gas/uap.
3.
Aerosol tiga fase
Terdiri
dari propelan cair, produk (mengambang pada propelan) dan gas/uap. Bentuk akhir
produk (busa atau kabut) dan ukuran partikel tergantung pada katup wadah
aerosol. Kombinasi lainnya yaitu ukuran mulut katup, pipa dip dan kran uap.
PROPELAN
·
Fluorokarbon
Ditemukan
pada tahun 1980, tetapi mulai dimanfaatkan pada tahun 1920; mempunyai daya
racun rendah (<1000 ppm); agak berbau; menghasilkan tekanan yang diinginkan
(1.02-8016 atm), tekanan konstan hingga produk habis; relatif mahal; contohnya
CCl2F-CClF2:; tekanan 1.29 atm, 21oC, tidak menyerang sebagian besar plastik
dan untuk produk buih; C4H8; tekanan 1.7 atm, 21oC, untuk bahan pangan.
·
Hidrokarbon
Fase
cair pada suhu ruang; contohnya butana, isobutana dan propana; dan sangat mudah
terbakar, penggunaan maksimum 12% (untuk menghindari bahaya terbakar).
·
Gas
kompresi
Merupakan
campuran N2O dengan CO2 (15:85); cocok untuk bahan pangan (rasa manis dari N2O
cocok, dapat mengimbangi rasa asam dari CO2); dan dapat dikombinasikan dengan
fluorocarbon.
Kemasan aerosol berdasarkan bahan kemasan
·
kemasan
aerosol logam
Bahan
yang digunakan alumunium, palt timah dan baja nirkarat. Pipa dip umumnya dari
plastik. Tahan tekanan tinggi (kemasan pecah pada tekanan > 20 atm). Kemasan
aerosol alumunium untuk produk farmasi dan parfum. Kemasan aerosol plat timah
beresiko terjadi karat terutama untuk produk alkali asam kuat. Kemasan aerosol
baja nirkarat untu produk kecil (mahal), dilapisi enamel (vinil, epoksi).
·
kemasan
aerosol gelas
Kemasan
ini tidak bereaksi dengan bahan kimia; cocok untuk produk yang mempnyai daya
korosif tinggi; dapat menampilkan produk (promosi); variasi model/bentuk
banyak: pipa dip umumnya plasti, sedangkan katup aerosol plastik/karet.
·
kemasan
aerosol plastik
Bahannya
adalah asetal, nilon, propilen; kurang berkembang, diperbaiki dengan kemas
aerosol gelas dilapisi plastik; kurang cocok untuk produk pangan, terdapat
masalah dengan alkohol, minyak atsiri dan propelan.
DRUM DAN WADAH LOGAM LAIN
Drum baja/campuran logam untuk minyak goreng, minyak
tanah, bensin dan bahan kimia. Kadang terdapat drum dari karton, plastik dan
campuran bahanbahan kemasan, isinya kira-kira 250 L. Pada drum terdapat simpay
(gelang gelinding) agar mudah dipindahkan. Bagian tertutup terdapat dua lubang
yaitu lubang kecil untuk lubang angin dan lubang besar untuk dapat dipasang
kran.
WADAH LOGAM LAIN:
Jemblung: kaleng besar dengan seng untuk kerupuk,
produk kering
Kaleng/blek:
bentuk kubus, bahan plat timah dengan atau tanpa enamel, untuk minyak goring
dan minyak atsiri
Silinder kecil: dari plat timah
Ember: dari palt timah, seng
·
Kemas
logam kertas majemuk (komposit)
KEMASAN KAYU
Kayu, terutama untuk
negara-negara yang mempunyai hutan yang melimpah, masih dipakai sebagai
kemasan, yaitu kemasan transportasi. Kemasan transportasi dari kayu dapat
berupa peti kayu penuh, peti kayu kerangka, peti kayu tipis, pallet dan lain
sebagainya. Namun kemasan kayu yang dalam bentuk peti kerangka atau peti-peti
yang menggunakan papan-papan kayu yang tipis dan ringan masih terus dipakai.
Kemasan yang menggunakan kayu basah dapat mengkerut sehingga konstruksinya berubah,
bahkan kemungkinan komponennya ada yang pecah, pegangan pakunya menjadi
longgar, atau bahkan dapat lepas. Kayu basahpun dapat menyebabkan produk di
dalamnya menjadi karatan. Kayu basah juga dapat menyebabkan tumbuhnya jamur
pada komponen kemasannya, yang selanjutnya dapat merusak kayu komponen kemasan
tersebut.
KEMAS KERTAS, KARTON DAN KARDUS
·
Bahan
kertas
Pulp
kayu lunak mempunyai panjang serat 0.25 in, sedangkan pulp kayu lunak (panjang
serat < 0.10 in).
·
Jenis
kertas
·
kertas
kraft
Terbuat dari kayu
lunak dengan proses sulfat; kuat; dan banyak digunakan untuk kemasan.
·
kertas
krep
Dibuat dengan jalan
kertas dilewatkan pelan-pelan ke press rolls saat menjelang akhir pembuatannya
sehingga kertas menjadi kerisut.
·
kertas
glasin dan kertas tahan minyak
Kertas ini permukaan
licin; tahan lemak dan minyak, tidak tahan air karena dilapisis lilin; dapat
ditambahkan bahan lain sperti plastisizer (untuk produk lengket), antioksidan,
dan penghambat pertumbuhan kapang; dan kertas glasin dapat untuk minyak.
·
kertas
lilin
Hampir
semua kertas dapat dilapisis lilin, caranya ialah lilin ditambahkan pada saat
proses pembuatan kertas atau lilin ditambahkan pada saat akhir (finished sheet)
berupa lilin basah atau lilin kering. Bahan dasar yaitu paraffin yang dicampur
dengan salah satu dari PE, microcrystalline wax atau peetrolatum. Kertas lilin
kering yaitu kertas dilapisi lilin dan dilewatkan heat roller. Kertas lilin
basah yaitu lilin mengeras di permukaan kertas. Lilin dapat dilapiskan pada 1-2
permukaan; biaya produksi rendah; tahan minyak; dan dapat dikelim panas.
·
Daluang
Terdiri
dari linerboard (dari kayu lunak/pinus) dan karton bergelombang (dari kayu keras
dengan proses sulfat); sering disebut CFB (corrugated fiber board);
banyak digunakan di industri sebagai kemas primer, sekunder maupun tertier.
·
Chipboard
Bahan
dari kertas koran, kertas bekas yang dimasak; dapat dibuat kertas tipis/ringan
atau kertas tebal/karton lipat.
·
soluble
paper
Kertas
yang larut dalam air; nama dagang Dissolvo (oleh Gilbreth co., USA) misalnya
Dissolvo A yang larut dalam larutan basa 2-5% dan tidak larut dalam air yang
tidak mengandung alkali; dan dilarang untuk membungkus makanan oleh FDA.
·
kertas
plastik
Merupakan
modofikasi plastik yang dimbuat mirip dengan kertas. Kertas tertentu yang
dilapisi oleh polistiren adalah Q-kote (lapisan polistiren dua sisi) dan Q-per
(tidak dilapisi, tetapi permukaan kertas diolesi oleh larutan yang mengandung
stiren); penemu: Japan Synthetic Paper co. Sifatnya tahan minyak; tahan
air/lembab; tidak ditumbuhi kapang; dan sering disebut kertas sintetik.
· Karton Lipat
Merupakan
kemasan yang populer karena pemakaian luas, bahan ekonomis, butuh ruangan sedikit
untu penyimpanan, dapat dibuat berbagai bentuk dan ukuran, dapat dicetak,
ukuran kecil, tebal karton 0.014-0.032 in dan relatif kuat. Salah satu atau
kedua sisi karton dapat diputihkan dengan cara solid bleched sulfate
board dan sulfite board. Macam produk yang dikemas menentukan jenis
bahan dan model. Dalam perdagangan dikenal sebagai FC (Folding Carton). Kadang
dilaminasi dengan plastik; Lapisan luar untuk cetak atau promosi; dan lapisan
dalam untuk meningkatkan daya tahan minyak.
KERTAS KOMPOSIT
Merupakan kertas/karton yang diolah bersama bahan
kemasan lain (plastik, logam, plastik dan logam). Manfaat: daya rapuh rendah,
daya kaku rendah dan kekuatan bahan tinggi. Konstruksi kemas komposit :
·
bentuk
spiral
Terdiri dari beberapa lapis bahan yang berbeda,
sudut sambungan bertumpang tindih
·
bentuk
cuping dijahit (lapisan seam)
Dibuat dari bahan yang dilaminasi, dipotong sesuai
dengan pola kemudian disambuang.
·
komposit
gulung
Terdiri
dari beberapa lapisan kumparan Penggunaan untuk jus sitrun, konsentrat sari
buah, rempah-rempah, sop kering, sedangkan untuk non pangan sebagai bahan kimia
dan obat tanaman. Penyempurnaan kemas komposit yaitu diberi laminasi dengan
foil atau bahan lain kemas komposit yang tahan tekanan vakum pada suhu 50° C.
KEMASAN KARTON GELOMBANG
·
Kraft
liner
Adalah
kertas kasar yang berwarna coklat kuning ke-abu-abuan, hasil proses pembuatan
kertas dengan bahan baku batang kayu dari jenis pohon berdaun jarum. Kayu dari
jenis pohon ini yang paling sesuai untuk bahan pembuatan kertas karena
mempunyai serat-serat selulosa yang relatip panjang-panjang.
· Medium
Bahan
medium pada dasarnya sama dengan kraft liner, hanya bahan-bahan bakunya lebih
tidak memerlukan syarat kemurnian yang tinggi, lagi pula proses pembuatannya
lebih sederhana, sehingga lebih murah. Maka pembuatannya di Indonesia sudah
lebih dahulu dari pada kraft liner.
Kekuatan Kotak Karton Gelombang
Tujuan utama pemakaian KKG ialah untuk melindungi
produk di dalamnya (yang telah dikemas dengan kemasan inti dan kemasan jualnya)
dari unsure perusak selama distribusi. Unsur perusak selama distribusi ini
terutama ialah perubahan keadaan alam, air/lembab dan gaya-gaya mekanis.
KEMASAN EDIBLE
Edible packaging pertama kali dikenal di Cina pada
abad 12 dan 13, dimana jeruk dan oranges dicelup lilin lebah cair untuk
mengatur laju respirasi sehingga proses pematangan bisa dikontrol. Aplikasi
edible film antara lain pada daging beku, ayam beku, hasil laut, confectionary,
dan makanan semi basah. Edible fil ditambah dengan pengawet bisa menjadi antimikroba
(misal benzoat, propionat); pengawet (sorbat); fungisida (benomyl, captan);
antioksidan (askorbat, BHA, BHT); dan sequestran (sitrat).
Penyusun utama edible packaging adalah hidrokoloid,
lipida, dan komposit. Hidrokoloid terdiri dari protein, selulosa, alginat,
pektin dan pati yang berguna untuk mencegah reaksi deteriorasi dan bersifat
polar/tahan lemak. Lipida terdiri dari lilin, acylglycerol, asam lemak dan
berguna untuk mencegah atau menahan difusi uap air. Sedangkan komposit terbuat
dari campuran hidrokoloid dan lipida, bersifat hidrofobik.
Bahan baku edible packaging antara lain adalah :
Protein
Terdapat empat jenis, yaitu albumin (protein larut
dalam air), globulin (protein larut dalam garam), prolamin (protein larut dalam
alkohol dan air), glutelin (protein larut dalam asam/basa). Protein dapat
berasal dari zein jagung, glutein gandum, dan protein kedelai.
Lipida dan Resin
Bahan baku lipida adalah parafin, lilin, polietilen,
minyak mineral, asam lemak, monogliserida. Sedangkan bahan baku resin adalah
shellac, wood resin, dan coumaronindene. Cara pengemasannya adalah dengan
coating, sprying, dipping, foaming, brushing dari larutan emulsi.
Karbohidrat
1. Sellulosa dan turunan sellulosa
Sumber
karbohidrat ini larut dalam aqueous ethylenediamin dan tembaga hidroksida.
Pelarutan polimernya dilakukan dengan menambah tepung; pengadukan kering
tepung; pelarutan dalam pelarut miscible (gliserin, ethanol, PG) ; penggunaan
alat (Hercules jet ejector).
2. Pati termodifikasi
Berguna
untuk menghilangkan ikatan hidrogen dan mengkonversikan rantai amylopektin
menjadi unit polimer amylosa. Merupakan formula untuk coatin produk permen,
buah-buahan, anggur, dan kacang-kacangan.
3. Pektin
Sebagai
coating, pektin ini dapat memperbaik penampakan, tidak lengket, dan tidak
beracun.
4.
Ekstrak
rumput laut
Ada
tiga, yaitu karagenan, alginat, dan agar. Karagenan terbuat dari
rumput laut merah Chondrus crispus, fungsinya untuk membentuk gel;
stabilisator suspensi dan emulsi; memperbaiki viskositas; memperbaiki
penampakan; menjaga humiditas; dan memperpanjang umur simpan. Alginat
terbuat dari rumput laut coklat Macrocystis pyrfera, Laminaria
hyberborea, L.digitata, Aschophyllum nodosum. Gelnya mengandung
L-gulopyranosiluronik yang keras, kaku, dan kurang elastik. Penambahan glycerol
pada alginat berguna untuk plasticizer. Flavor-tex (coating alginat komersial)
dapat mengurangi ketengikan, pengkerutan, migrasi uap air dan penyerapan
minyak. Agar terbuat dari
rumput laut merah Rhodopyceae.
5. Polisakarida dari getah pohon
Contohnya
adalah gum arabik yang merupakan kompleks heteropolisakarida dari pohon Acacia
senegal, yang bersifat larut dalam air dingin dan tidak larut dalam
alkohol. Sebagai bahan coating, gum arab dapat menahan uap air, memperbaiki
penampakan dan mencegah oksidasi/ pencoklatan.
6. Polisakarida dari biji-bijian
Misalnya
adalah locust bean gum, bersifat tidak larut dalam air dingin dan pelarut organik
serta larut pada air panas. Sebagai bahan coating berguna untuk mengikat air.
7.
Polisakarida
dari hasil fermentasi
Contohnya
adalah xanthan gum yang diproduksi oleh bakteri Xanthomonas campestris..
Sebagai polimer dalam industri pangan, xanthan gum berguna sebagai
pengental, suspensi, dan stabilizer.
Aplikasi Edible Packaging pada Kemasan
1. Aplikasi edible coating
Ada lima aplikasi, yaitu pencelupan (dip
application), penyapuan dengan busa (foam application), penyemprotan (spray
application), penetesan (drip application), dan penetesan terkontrol
(controlled drip aplication). Pencelupan
(dip application) mempunyai keuntungan antara lain ketebalan
materi coating yang lebih besar serta memudahkan pembuatan dan pengaturan
viskositas larutan. Kerugiannya adalah munculnya deposit kotoran dari larutan,
sehingga buah harus benar-benar bersih dan kering. Penyapuan dengan busa (foam
application) dibuat dengan menambah foaming agent atau udara
pada emulsi, kemudian diaduk sampai homogen. Untuk penyapuannya digunakan sikat
atau kain lembut dengan sistem batch dan kontinu. Penyemprotan (spray application) dilakukan dengan
menggunakan nozlzle bertekanan rendah yang dilengkapi kontrol kecepatan nozzle,
tekanan nozzle, ketebalan coating, dan lama penyemprotan. Dalam penetesan (drip application) larutan coating
diterapkan langsung ke permukaan obyek; diteteskan melalui sikat; atau dengan menggunakan
kran penetes yang disesuaikan dengan besarnya aliran yang dikehendaki. Penetesan terkontrol (controlled drip aplication),
merupakan metode spray application yang disertai alat pengontrol otomatis.
2. Enkapsulisasi komponen flavor
Berguna untuk memperoleh komponen flavor yang
berstruktur solid, melindungi komponen flavor dari reaksi kimia seperti
oksidasi, dan memudahkan penyimpanan serta memperpanjang umur simpan. Metode
enkapsulisasi yang digunakan antara lain adalah spray drying dan ekstruksi.
Pada metode spray drying, emulsi dengan kadar air 40% bb dihomogenisasi,
dipompakan ke nozzle spray dryer dan disemprotkan ke ruang pemanas (200 –
235°C). Bahan yang digunakan
adalah maltodekstrin, padatan, syrup jagung, pati termodifikasi dan gum acacia.
Sedangkan pembuatan ekstruksi dilakukan dengan membuat adonan (karbohidrat),
menambah flavor (10 – 20%), pembentukan emulsi, dan ekstruksi adonan.
Edible Film
Edible film adalah lapisan tipis yang dibuat
dari bahan yang dapat dimakan, diletakkan diantara komponen makanan yang
berfungsi sebagai barrier terhadap transfer massa (misal kelembaban,
oksigen, lipid dan zat terlarut) dan sebagai carrier bahan makanan dan
aditif untuk meningkatkan penanganan makanan. Edible film telah banyak
dibuat dengan menggunakan komponenkomponen polisakarida, lipid dan protein. Edible
film dari komponen proteinlipid
Edible film yang dibuat dari hidrokoloid
merupakan barrier yang baik terhadap transfer oksigen, karbohidrat dan
lipid. Kebanyakan dari film hidrokoloid memiliki sifat yang baik sehingga
sangat baik untuk dijadikan bahan pengemas. Film hidrokolid umumnya mudah larut
dalam air sehingga sangat menguntungkan dalam penggunaannya. Penggunaan lipid
sebagai bahan pembentuk film secara sendiri sangat terbatas karena film yang
terbentuk umumnya tidak kuat. Hidrokoloid termasuk ke dalam protein dan
polisakarida. Dalam hal ini selulosa dan turunannya merupakan sumber daya
organik, memiliki sifat mekanik yang baik untuk pembuatan film. Selulosa
sebagai bahan untuk pembuatan film sangat efisien sebagai barrier terhadap
oksigen dan hidrokarbon dan sifatnya sebagai barrier terhadap uap air
dapat dibuktikan dengan penambahan lipid.
Bahan Edible Film
Methylcellulose
Methylcellulose (MC) diperoleh dengan mereaksikan cellulose
fiber dengan caustic soda menjadi alkali cellulose. Alkali
cellulose dibuat dengan cara perendaman caustic pada serat
selulosa. Kemudian direaksikan dengan methyl ether berdasarkan reaksi
eterifikasi Williamson pada suhu 50-1000C dan tekanan 14 kg/cm2 selama
beberapa jam. Hasil reaksinya adalah methyl
ether cellulose.
Perubahan beberapa grup hidroksil (OH) molekul
selulosa menjadi grup metil eter, meningkatkan kelarutan dalam air dari molekul
selulosa dan mengurangi kemampuan untuk menyatu kembali. MC akan membentuk film
dengan kekuatan tinggi, film yang jernih, larut dalam air, tidak berminyak,
memiliki laju oksigen dan kecepatan transmisi uap air yang rendah.
Methylcellulose berwarna putih, tidak berbau,
tidak berasa, dan tidak bersifat toksik. Protein dan polisakarida sering
dihubungkan dengan subtansi hidrofobik seperti lipid, untuk meningkatkan
efisiensi barrier. Hal ini menyebabkan pembuatan film sering
melibatkan lipid.
Lilin Lebah
Lilin adalah ester yang terbentuk dari asam lemak
dengan alcohol monohidrat ranatai panjang. Lilin lebah atau beeswax sebagian
besar tersusun atas ester seril miristat. Sarang lebah merupakan malam atau
lilin dibentuk oleh lebah dari lilin sebagai bahan utama dan diperkuat denagn
bahan perekat yang disebut propolis. Lilin lebah dibentuk melalui proses kimia
dengan madu sebagai bahan baku dan untuk membuat kilogram lilin diperlukan
empat kilogram madu. Beeswax, carnauba wax dan parrafin ditemukan dapat
meningkatkan resisten trasfer uap air pada film. Beeswax disekresikan
oleh lebah madu untuk membangun sisiran sarangnya. Beeswax diperoleh
dengan sentrifugasi madu dari sisiran sarang tersebut. Kemudian dicairkan
dengan air panas dan uap. Lilin dapat dimurnikan dengan tawas diatomae dan
karbon aktif, di bleach dengan permanaganat / bikromat.
Plasticizer
Plasticizer diidefinisikan sebagai bahan non
volatil, bertitik didih tinggi yang jika ditambahkan pada material lain dapat
merubah sifat fisik dari material tersebut. Penambahan plasticizer dapat
menurunkan kekuatan intermolekuler, meningkatkan fleksibilitas film dan
menurunkan sifat barrier film.
Gliserol dan sorbitol merupakan plasticizer
yang efektif karena memiliki kemampuan untuk mengurangi ikatan hydrogen
internal pada ikatan intromolekuler.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar