Rabu, 12 Maret 2014

pengemasan

PENANGANAN DAN PENGEMASAN HASIL TERNAK

Faktor Perusak Bahan Pangan
            Unsur perusak menurut jenisnya dapat dibagi-bagi sebagai berikut :
1.       Alam, terdiri dari sinar matahari(UV), panasnya suhu udara maupun panas buatan, gas-gas dari udara (gas oksigen),  lembabnya udara,  tekanan udara, terutama penurunan tekanan, debu, air, terutama air laut.
2.      Mikroba, meliputi bakteri, ragi, kapang, jamur, dll.
3.      Produk itu sendiri, yaitu reaksi kimia yang belum berhenti, reaksi biokimia yang belum berhenti, reaksi alamiah produknya sendiri.
4.      Binatang, meliputi ngengat, serangga, tikus dan lainnya.
5.      Gaya mekanis, meliputi tekanan, desakan, hempasan, bantingan, gesekan, getaran, putiran, tusukan, dll.

Unsur perusak dari alam pada umumnya dapat dikurangi pengaruhnya oleh kemasan inti. Panasnya udara sedikit di atas atau di bawah suhu rata-rata udara masih dapat ditanggulangi dengan kemasan, namun beda yang banyak harus dibantu dengan alat pendingin atau oleh sistim pergudangan/transportasinya. Mikroba-mikroba dari luar jelas dapat dicegah untuk dapat menerobos kemasan. Mikroba yang telah berada dalam kemasan masih dapat ditekan laju pertumbuhannya atau kemampuan perusaknya dengan mencegah masuknya unsur pengaktif mikroba tersebut, misal bertambahnya kelembaban, masuknya oksigen, atau masuknya sinar matahari, dan sebagainya.
Pada bahan pangan terdapat unsur perusak dari sifat produknya sendiri, kemasan tidak dapat berbuat banyak. Dapat berbuat sesuatu asal didampingi dengan usaha-usaha lainnya. Juga terhadap unsur perusak binatang, kemasan tidak dapat berbuat banyak. Bahkan kadang kadang ada bahan kemasan yang disukai oleh binatang. Sedangkan unsur perusak gaya mekanis dapat dikurangi pengaruh perusaknya terutama dari keamasan transportasinya. Unsur perusak ini terutama timbul pada saat penimbunan di gudang dan pada saat di transportasikan/diekspor.

Pengemasan
Pengemasan (Pembungkusan/Pewadahan/pengepakan) merupakan wadah atau pembungkus yang dapat membantu mencegah atau mengurangi terjadinya kerusakan-kerusakan pada bahan yang dikemas / dibungkusnya. Kemasan adalah suatu komponen yang berfungsi untuk menempatkan suatu hasil pengolahan produk, sehingga mempunyai bentuk yang memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan dan pendistribusian dari produsen ke tangan konsumen serta dapat memberikan perlindungan terhadap mutu produk yang dikandungnya sekaligus melindungi bahan dan barang di dalamnya terhadap kontaminasi dari luar.
Unsur-unsur yang terdapat pada kemasan, yaitu segala sesuatu yang tercantum pada suatu kemasan, baik yang terlihat seperti ukuran, desain, warna dan bahan maupun hal-hal yang terdapat dalam kemasan seperti komposisi, manfaat, tanggal kadaluarsa, harga, takaran, cara penggunaan dan sebagainya.

Tujuan Pengemasan
Secara umum tujuan dari pengemasan adalah untuk melindungi komoditas dari kerusakan mekanik, tidak menghambat lolosnya panas bahan dan panas pernapasan dari produk, serta mempunyai kekuatan konstruksi yang cukup untuk mengatasi penanganan dan pengangkutan yang wajar.
pengemasan dapat mengurangi kehilangan kandungan air (pengurangan bobot), dengan demikian dapat mencegah terjadinya dehidrasi, terutama jika digunakan bahan penghalang yang kedap uap air. Hal ini dapat mempertahankan umur komoditas karena turunnya kandungan air akan menyebabkan kelayuan atau kisutnya bahan yang merupakan sebab hilangnya kesegaran, penampakan tekstur dan kemungkinan laku dijual.
Sampai batas tertentu kemasan dapat melindungi produk di dalamnya dari unsur perusak dari luar. Sebagaimana telah diketahui secara umum, pada umumnya produk olahan, setelah selesai dimasak, bila dibiarkan diudara terbuka akan cepat turun mutunya karena terangsang oleh unsur perusak dari luar. Produk-produk lainpun akan rusak bila disimpan di gudang atau ditransportasikan tanpa pelindungan (kemasan) yang sesuai.
Kemasan, sampai batas tertentu memang dapat mengurangi pengaruh buruk dari unsur perusak dari luar. Dengan demikian produk didalamnya akan dapat lebih lama bertahan dalam kondisi yang baik.

Manfaat Kemasan
            Pemberian kemasan pada suatu produk dapat memberikan tiga manfaat , yaitu:
1.      Manfaat Komunikasi.
Sebagai media pengungkapan informasi produk kepada konsumen (cara penggunaan produk, komposisi dan informasi khusus).
2.      Manfaat Fungsional
Sebagai pemastian peranan fungsional penting, seperti memberikan kemudahan, perlindungan dan penyimpanan.
3.      Manfaat Perseptual
Kemasan bermanfaat dalam menanamkan persepsi tertentu dalam benak konsumen.
Fungsi paling mendasar dari kemasan adalah untuk mewadahi dan melindungi produk dari kerusakan-kerusakan, sehingga lebih mudah disimpan, diangkut dan dipasarkan. Secara umum fungsi pengemasan pada bahan pangan adalah :
  1. Mewadahi produk selama distribusi dari produsen hingga kekonsumen, agar produk tidak tercecer, terutama untuk cairan, pasta atau butiran
  2. Melindungi dan mengawetkan produk, seperti melindungi dari sinar ultraviolet, panas, kelembaban udara, oksigen, benturan, kontaminasi dari kotoran dan mikroba yang dapat merusak dan menurunkan mutu produk.
  3. Sebagai identitas produk, dalam hal ini kemasan dapat digunakan sebagai alat komunikasi dan informasi kepada konsumen melalui label yang terdapat pada kemasan.
  4. Meningkatkan efisiensi, misalnya : memudahkan penghitungan (satu kemasan berisi 10, 1 lusin, 1 gross dan sebagainya), memudahkan pengiriman dan penyimpanan. Hal ini penting dalam dunia perdagangan.
  5. Melindungi pengaruh buruk dari luar, melindungi pengaruh buruk dari produk di dalamnya, misalnya jika produk yang dikemas berupa produk yang berbau atau produk yang dapat menularkan warna, maka dengan mengemas produk ini dapat melindungi produk-produk lain di sekitarnya.
  6. Memperluas pemakaian dan pemasaran produk, misalnya penjualan keju dan sossis mengalami peningkatan sebagai akibat dari penggunaan kemasan botol plastik.
  7. Menambah daya tarik calon pembeli
  8. Sarana informasi dan iklan
  9. Memberi kenyamanan bagi pemakai.
Jenis Kemasan
            Bahan hasil ternak mudah mengalami perubahan bentuk dan mutu akibat pengaruh oksigen, kelembaban, mikroorganisme, dll. Kelembaban lingkungan yang tinggi akan mengakibatkan kadar air bahan meningkat sehingga produk pengolahannya menjadi media yang baik bagi pertumbuhan jamur atau aktivitas mikroorganisme lainnya. Pertumbuhan jamur dan aktivitas mikroba mengakibatkan penurunan mutu produk.
Penguraian yang tidak terkontrol akan mengakibatka kebusuka pada produk. Oleh karena itu dalam penyimpanan produk harus memperhatikan suhu, kelembaban, kadar air bahan, serta wadah penyimpanan produk.
            Jenis pengemasan meliputi :
1)      Pengemasan vakum
Pengemasan vakum adalah pengeluaran semua udara di dalam kemasan tanpa diganti dengan gas lain. Dengan demikian akan terjadi perbedaan tekanan antara bagian dalam kemasan dengan bagian luar. Proses respirasi dilakukan oleh buah yang dikemas akan semakin menghabiskan oksigen di dalam kemasan sehingga menambah kondisi vakum. Tetapi selain itu, juga dihasilkan CO2 dan air. Sehingga dalam prakteknya kemasan vakum akan menjadi kemasan atmosfir termodifikasi. Pengemasan vakum diperlukan untuk mengeluarkan oksigen dari kemasan dan menambah umur simpan. Plastik yang digunakan dalam pengemasan vakum yaitu plastik yang mempunyai permeabilitas O2 yang rendah dan tahan terhadap bahan yang dikemas.
 pengemasan vakum dengan menggunakan bahan yang fleksibel merupakan proses pelepasan udara dari sekeliling produk. Hal ini dapat disempurnakan dengan dua jalan yaitu : dengan memompa udara dari kemasan atau dengan menekan dinding dari kemasan untuk memaksa udara keluar. Dengan cara tersebut biasanya dapat mengurangi sejumlah oksigen dibawah dua persen.


2)      Pengemasan Atmosfer Termodifikasi
Menurut Park et al (1996), pada prakteknya ada dua macam system pengemasan atmosfir termodifikasi, yaitu cara aktif dan cara pasif. Dalam pengemasan atmosfir termodifikasi cara pasif, kesetimbangan CO2 dan O2 didapat melalui pertukaran udara dalam kemasan. Untuk mendapatkan dan mempertahankan komposisi udara yang sesuai dalam kemasan, permeabilitas film yang dipilih harus diupayakan agar memungkinkan O2 untuk memasuki film dan diimbangi oleh konsumsi O2 oleh komoditas. Demikian pula CO2 dikeluarkan dari film kemasan untuk mengimbangi produksi CO2 oleh komoditas. Dalam penyimpanan hasil pertanian dikenal juga teknik pengaturan udara disekeliling produk yang disimpan, cara yang sudah dikenal antara lain penyimpanan dengan pengendalian atmosfir (Controlled Atmosphere Storage), penyimpanan dengan modifikasi atmosfir (Modified Atmosphere Storage), dan penyimpanan hipobarik (Hipobarik Storage).
Penyimpanan dengan modifikasi atmosfir adalah penyimpanan dimana tingkat konsentrasi gas O2 lebih rendah dan tingkat konsentrasi gas CO2 lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi atmosfer suhu ruang melalui pengaturan pengemasan yang akan menghasilkan kondisi tertentu melalui interaksi penyerapan dan pernapasan komoditi yang disimpan. Sedangkan pada penyimpanan dengan pengendalian atmosfir, pengaturan kandungan O2 dan CO2 pada kondisi tertentu dilakukan dengan pengendalian terusmenerus melalui peralatan penunjangnya (Luo et al, 2004). Pengaruh rendahnya O2 dan tingginya CO2 dalam udara penyimpanan akan dapat memperlambat respirasi, pematangan buah, menurunkan laju respirasi, menurunkan laju produksi etilen, memperlambat pembusukan, dan menekan berbagai perubahan yang berhubungan dengan pematangan (Park et al, 1996).
Setidaknya ada beberapa jenis kemasan yang secara bentuk dan fungsinya berbeda-beda berdasarkan kebutuhannya. Menurut Kotler (1997). Kemasan dibagi tiga tingkatan, yaitu:
a.       Kemasan primer berfungsi sebagai wadah kemasan yang langsung
menyentuh produk bersangkutan.
b.      Kemasan sekunder mengacu pada bahan yang melindungi kemasan primer dan dibuang kalau produk tersebut hendak digunakan.
c.       Kemasan pengiriman, mengacu pada kemasan yang diperlukan
untuk menyimpan, identifikasi atau transportasi.


Kemasan Film/Plastik
            Plastik dibuat dengan cara polimerisasi yaitu menyusun dan membentuk secara sambung menyambung bahan-bahan dasar plastik yang disebut monomer. Misalnya, plastik jenis PVC (Polivinil Chlorida), sesungguhnya adalah monomer dari vinil klorida. Disamping bahan dasar berupa monomer, di dalam plastik juga terdapat bahan non plastik yang disebut aditif yang diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat plastic itu sendiri. Bahan aditif tersebut berupa zat-zat dengan berat molekul rendah, yang dapat berfungsi sebagai pewarna, antioksidan, penyerap sinar ultraviolet, anti lekat, dan masih banyak lagi.
            Bahan plastic banyak digunakan, hal ini disebabkan karena plastic kuat tetapi ringan, tidak berkarat, bersifat termoplastis, yaitu dapat direkat menggunakan panas, serta dapat diberi label atau cetakan dengan berbagai kreasi. Selain itu plastik juga mudah untuk diubah bentuk.

            Jenis kemasan plastik/film:
a.    Politen/Polietilen (PE)
Merupakan polimerasi adisi gas etilen dari hasil samping industri minyak. Ada tiga jenis, Low Density Polyethylene (LDPE) yang mudah dikelim dan murah, Medium Density Polyethylene (MDPE) yang lebih kaku dari LDPE dan lebih tahan suhu tinggi, dan High Density Polyethylene (HDPE) yang paling kaku dan tahan suhu tinggi (suhu 120°C). Sifat umum dari PE adalah mempunyai penampakan bervariasi dan transparan, berminyak; mudah dibentuk, lemas, gampang ditarik; daya rentang tinggi tanpa sobek; mudah dikelim panas; tidak cocok untuk bahan berlemak, gemuk, minyak; tahan terhadap asam, basa, alkohol, deterjen; untuk penyimpanan beku (-50°C); transmisi gas cukup tinggi (untuk makanan beraroma); serta kedap air dan uap air.

b.   Poliester/Polietilen Tereptalat (PET)
Biasa digunakan untuk kemasan buah kering, makanan beku dan permen. Sifat umumnya antara lain transparan, bersih, jernih; adaptasi suhu tinggi (suhu 300°C) sangat baik; permeabilitas uap air dan gas sangat rendah; tahan pelarut organik; serta tidak tahan asam kuat, phenol, benzil alkohol.

c.    Polipropilen (PP)
Syarat utama PP antara lain ringan, mudah dibentuk, transparan, jernih (kemasan kaku tidak transparan); kekuatan tarik lebih besar dari PE, suhu rendah, rapuh, mudah pecah; lebih kaku dari PE, tidak mudah sobek; permeabilitas uap air rendah, permeabilitas gas sedang; tahan suhu tinggi (150°C) terutama untuk makanan sterilisasi; titik leleh tinggi, sulit dibuat kantung; tahan terhadap asam kuat, basa dan minyak; pada suhu tinggi bereaksi dengan benzena, siklen, toluen, terpentin, asam nitrat kuat..

d.   Polistirene (PS)
Sifat utamanya adalah kekuatan tarik dan tidak mudah sobek; titik lebur rendah (80°C); tahan asam, basa; terurai dengan alkohol, ester, keton, klorin, hidrokarbon aromatik; permeabilitas uap air dan gas sangat tinggi; mudah dicetak, licin, jernih, mengkilap; keruh jika kontak dengan pelarut, mudah menyerap pemlastik; afinitas tinggi terhadap debu dan kotoran; serta baik untuk bahan dasar laminasi dengan logam.


e.    Polivinil Khlorida (PVC)
Ada tiga jenis yaitu plasticized vinyl chloride, vinyl co polimer, dan oriented film. Sifat umumnya adalah tembus pandang; permeabilitas gas dan uap air rendah; tahan terhadap minyak, alkohol dan petroleum; kekuatan tarik tinggi, tidak mudah sobek; dapat dipengaruhi hidrokarbon aromatik, keton, aldehid, ester, dan lain-lain; serta mempunyai densitas 1.35 – 1.4g/cm3.

f.    Saran/Poliviniliden Khlorida (PVDC)
Sifat umum PVDC saran antara lain adalah transparan, luwes, jernih, beragam; tahan terhadap bahan kimia, asam, basa, minyak; sekat lintasan yang baik untuk sinar UV; permeabilitas gas dan uap air sangat rendah; tahan terhadap pemanasan kering atau basah; serta tidak baik untuk kemas beku. Sedangkan sifat umum PVDC cryovac, yakni mempunyai permeabilitas uap air dan gas rendah; mengkerut jika kena panas; tahan suhu rendah (-40°C); tahan tekanan tinggi (vakum); mudah dicetak, licin, transparan; tidak mudah dibakar; mudah dikelim panas.

g.    Selopan
Sifat umum selopan adalah transparan, terang; tidak termoplastik, tidak bisa direkat dengan panas; tidak larut air, minyak, tidak melalukan O2; mudah retak pada RH dan suhu rendah; mudah dilaminasi; mudah dirobek; dan mengkerut pada suhu dingin. Ada beberapa kode atau jenis selopan, yaitu A/B (Anchored); C (Colored); D (du Pont); L (kedap air sedang); M (kedap uap air); O (dilapisi sebelah); P (tidak dilapisi); R (dilapisis dengan vinil); S (direkat dengan panas); T (tembus pandang); V, X/K (dilapisi dengan polimer saran); WO (White Opaque).

h.   Film Plastik
Contoh dari plastik film adalah film larut air dan dapat dimakan, yaitu amilosa pada bungkus permen dan sosis; selulosa asetat butirat, selulosa asetat propionat; selulosa nitrat dan selulosa triasetat; klorotrifluoroetilin (peralatan bedah); etilen buten (mirip HDPE); fluoro karbon (teflon, tahan bahan kimia); ionomer (kemasan vakum); polivinil alk (untuk produk kering); polietilen oksida (kemasan tepung); polialomer (karakter antara HDPE dan PP); dan Hfilm (toleransi terhadap suhu cukup besar, sekitar 269 - 400°C, tahan terhadap radiasi sinar X).

Kemasan Film Untuk Makanan Dan Minuman

a)      Produk Susu
Kemasan yang terbaik adalah LDPE dan HDPE. LDPE digunakan dengan cara membentuknya mengisi dan di-seal, sedangkan HDPE digunakan untuk ukuran besar. Untuk produk keju lebih baik digunakan nilon/PE, selulosa/PE, PET/PE, selo/saran/PE, PET/saran/PE, nilon/PE.
b)      Daging dan Ikan
Daging segar lebih baik dikemas dengan PVC/selopan, sehingga terlihat cerah, Untuk produk keju lebih baik digunakan nilon/PE, selulosa/PE, PET/PE, selo/saran/PE, PET/saran/PE, nilon/PE.

Kemasan Logam

            Karakterisitik kemas logam antara lain konduktor tinggi, dapat ditempa, kilap logam, tidak tembus pandang, densitas tinggi dan padat. Keunggulan kemas kaleng antara lain kekuatan mekanik besar, barrier tinggi sehingga hermetis, toksisitas rendah, tahan kondisi ekstrim dan permukaan ideal untuk pelabelan.
·      Tin Plate dan TFS
Jenis kaleng dibedakan berdasarkan komponen pelapisan, cara pelapisan, dan komponen baja utama, sehingga ada yang disebut kaleng pelat timah, kaleng TFS, kaleng 3 lapis dan kaleng lapis ganda. Kandungan Sn harus 1-1.25% dari berat kaleng. Cara pelapisan bisa dengan celup atau elektrolisa.Tipe kaleng antara lain N: ditambah 0.02% nitrogen untuk meningkatkan daya kaku dan untuk produk berkarbonat; D: ditambah lapisan alumunium; dan 2 CR: cold reduce lebih ringan, dan untuk bir dan sari buah.

Lapisan enamel
Lapisan enamel merupakan lapisan non logam pada kaleng, melapisi metal (mencegah korosi), melindungi kontak langsung dengan produk. Enamel dalam  berfungsi untuk mencegah korosi, sedangkan enamel luar berfungsi untuk mencegah korosi dan untuk dekorasi.

·      Alumunium dan Alufo
Alumunium merupakan jenis logam yang lebih ringan dari baja, daya korosif rendah, mudah dibengkokkan, mampu menahan masuknya gas, tidak berbau dan tidak berasa, dan sulit disolder sehingga sambungan tidak rapat. Penggunaan alumunium secara komersial, alumunium murni: kurang menguntungkan; perlu penambahan komponen campuran untuk memperbaiki sifat-sifatnya dan meningkatkan daya tahan korosi; bahan campuran (alloy) antara lain tembaga 0.15%, magnesium, mangan, khromium 0.1-0.3%, besi, seng dantitanium; manfaat lain alumunium untuk tutup kaleng (tutup datar, penutup tipe mahkota, tutup sistem pembuka tarik, tutup sistem pembuka cincin) dan tube logam lunak (collapsible tube).

Alumunium foil (Alufo)
Merupakan bahan kemas dari lembaran alumunium yang padat dan tipis dengan ketebalan <0.15 m. Mempunyai tingkat kekerasan berbeda, dimana tanda Oberarti sangat lunak; H-n: keras (semakin tinggi bilangan, maka semakin keras). Kemasan ini hermetis, tidak tembus cahaya, fleksibel, dan dapat dignakan sebagai bahan pelapis atau penguat dilapisi dengan plastik atau kertas.

Retort Pouch
Kemasan ini tahan suhu sterilisasi; mempunyai daya simpan tinggi; kuat; tidak mudah sobek/tertusuk; teknik penutupan mudah; contoh: PP-Alufo-PET. Penggunaan alumunium untuk kemasan pangan antara lain untu produk buahbuahan, produk sayuran, produk daging, produk ikan, kerang, produk susu dan minuman.
·         Kemasan Aerosol
Kemasan ini terdiri dari tiga bagian utama yaitu produk cair, propelan pendorong cairan dan gas. Jenis kemasan aerosol ditentukan berdasarkan komposisi bahan (produk, propelan dan gas) dan mekanisme pengeluaran produk.
1. Aerosol satu fase
Terdiri dari produk cair dan gas propelan dengan jumlah sama banyak. Gas propelan menekan produk sehingga produk keluar melalui pipa dip dan membentuk seperti busa.
2. Aerosol dua fase
Terdiri dari propelan cair yang larut dalam produk (emulsi produkpropelan) dan gas/uap.
3. Aerosol tiga fase
Terdiri dari propelan cair, produk (mengambang pada propelan) dan gas/uap. Bentuk akhir produk (busa atau kabut) dan ukuran partikel tergantung pada katup wadah aerosol. Kombinasi lainnya yaitu ukuran mulut katup, pipa dip dan kran uap.


PROPELAN

·         Fluorokarbon
Ditemukan pada tahun 1980, tetapi mulai dimanfaatkan pada tahun 1920; mempunyai daya racun rendah (<1000 ppm); agak berbau; menghasilkan tekanan yang diinginkan (1.02-8016 atm), tekanan konstan hingga produk habis; relatif mahal; contohnya CCl2F-CClF2:; tekanan 1.29 atm, 21oC, tidak menyerang sebagian besar plastik dan untuk produk buih; C4H8; tekanan 1.7 atm, 21oC, untuk bahan pangan.
·         Hidrokarbon
Fase cair pada suhu ruang; contohnya butana, isobutana dan propana; dan sangat mudah terbakar, penggunaan maksimum 12% (untuk menghindari bahaya terbakar).
·         Gas kompresi
Merupakan campuran N2O dengan CO2 (15:85); cocok untuk bahan pangan (rasa manis dari N2O cocok, dapat mengimbangi rasa asam dari CO2); dan dapat dikombinasikan dengan fluorocarbon.

Kemasan aerosol berdasarkan bahan kemasan
·         kemasan aerosol logam
Bahan yang digunakan alumunium, palt timah dan baja nirkarat. Pipa dip umumnya dari plastik. Tahan tekanan tinggi (kemasan pecah pada tekanan > 20 atm). Kemasan aerosol alumunium untuk produk farmasi dan parfum. Kemasan aerosol plat timah beresiko terjadi karat terutama untuk produk alkali asam kuat. Kemasan aerosol baja nirkarat untu produk kecil (mahal), dilapisi enamel (vinil, epoksi).
·         kemasan aerosol gelas
Kemasan ini tidak bereaksi dengan bahan kimia; cocok untuk produk yang mempnyai daya korosif tinggi; dapat menampilkan produk (promosi); variasi model/bentuk banyak: pipa dip umumnya plasti, sedangkan katup aerosol plastik/karet.
·         kemasan aerosol plastik
Bahannya adalah asetal, nilon, propilen; kurang berkembang, diperbaiki dengan kemas aerosol gelas dilapisi plastik; kurang cocok untuk produk pangan, terdapat masalah dengan alkohol, minyak atsiri dan propelan.


DRUM DAN WADAH LOGAM LAIN
Drum baja/campuran logam untuk minyak goreng, minyak tanah, bensin dan bahan kimia. Kadang terdapat drum dari karton, plastik dan campuran bahanbahan kemasan, isinya kira-kira 250 L. Pada drum terdapat simpay (gelang gelinding) agar mudah dipindahkan. Bagian tertutup terdapat dua lubang yaitu lubang kecil untuk lubang angin dan lubang besar untuk dapat dipasang kran.

WADAH LOGAM LAIN:
Jemblung: kaleng besar dengan seng untuk kerupuk, produk kering
Kaleng/blek: bentuk kubus, bahan plat timah dengan atau tanpa enamel, untuk minyak goring dan minyak atsiri
Silinder kecil: dari plat timah
Ember: dari palt timah, seng
·   Kemas logam kertas majemuk (komposit)


KEMASAN KAYU
            Kayu, terutama untuk negara-negara yang mempunyai hutan yang melimpah, masih dipakai sebagai kemasan, yaitu kemasan transportasi. Kemasan transportasi dari kayu dapat berupa peti kayu penuh, peti kayu kerangka, peti kayu tipis, pallet dan lain sebagainya. Namun kemasan kayu yang dalam bentuk peti kerangka atau peti-peti yang menggunakan papan-papan kayu yang tipis dan ringan masih terus dipakai.
Kemasan yang menggunakan kayu basah dapat  mengkerut sehingga konstruksinya berubah, bahkan kemungkinan komponennya ada yang pecah, pegangan pakunya menjadi longgar, atau bahkan dapat lepas. Kayu basahpun dapat menyebabkan produk di dalamnya menjadi karatan. Kayu basah juga dapat menyebabkan tumbuhnya jamur pada komponen kemasannya, yang selanjutnya dapat merusak kayu komponen kemasan tersebut.


KEMAS KERTAS, KARTON DAN KARDUS
·         Bahan kertas
Pulp kayu lunak mempunyai panjang serat 0.25 in, sedangkan pulp kayu lunak (panjang serat < 0.10 in).
·         Jenis kertas
·      kertas kraft
Terbuat dari kayu lunak dengan proses sulfat; kuat; dan banyak digunakan untuk kemasan.
·      kertas krep
Dibuat dengan jalan kertas dilewatkan pelan-pelan ke press rolls saat menjelang akhir pembuatannya sehingga kertas menjadi kerisut.
·      kertas glasin dan kertas tahan minyak
Kertas ini permukaan licin; tahan lemak dan minyak, tidak tahan air karena dilapisis lilin; dapat ditambahkan bahan lain sperti plastisizer (untuk produk lengket), antioksidan, dan penghambat pertumbuhan kapang; dan kertas glasin dapat untuk minyak.
·      kertas lilin
Hampir semua kertas dapat dilapisis lilin, caranya ialah lilin ditambahkan pada saat proses pembuatan kertas atau lilin ditambahkan pada saat akhir (finished sheet) berupa lilin basah atau lilin kering. Bahan dasar yaitu paraffin yang dicampur dengan salah satu dari PE, microcrystalline wax atau peetrolatum. Kertas lilin kering yaitu kertas dilapisi lilin dan dilewatkan heat roller. Kertas lilin basah yaitu lilin mengeras di permukaan kertas. Lilin dapat dilapiskan pada 1-2 permukaan; biaya produksi rendah; tahan minyak; dan dapat dikelim panas.
·      Daluang
Terdiri dari linerboard (dari kayu lunak/pinus) dan karton bergelombang (dari kayu keras dengan proses sulfat); sering disebut CFB (corrugated fiber board); banyak digunakan di industri sebagai kemas primer, sekunder maupun tertier.
·      Chipboard
Bahan dari kertas koran, kertas bekas yang dimasak; dapat dibuat kertas tipis/ringan atau kertas tebal/karton lipat.
·      soluble paper
Kertas yang larut dalam air; nama dagang Dissolvo (oleh Gilbreth co., USA) misalnya Dissolvo A yang larut dalam larutan basa 2-5% dan tidak larut dalam air yang tidak mengandung alkali; dan dilarang untuk membungkus makanan oleh FDA.
·      kertas plastik
Merupakan modofikasi plastik yang dimbuat mirip dengan kertas. Kertas tertentu yang dilapisi oleh polistiren adalah Q-kote (lapisan polistiren dua sisi) dan Q-per (tidak dilapisi, tetapi permukaan kertas diolesi oleh larutan yang mengandung stiren); penemu: Japan Synthetic Paper co. Sifatnya tahan minyak; tahan air/lembab; tidak ditumbuhi kapang; dan sering disebut kertas sintetik.
·      Karton Lipat
Merupakan kemasan yang populer karena pemakaian luas, bahan ekonomis, butuh ruangan sedikit untu penyimpanan, dapat dibuat berbagai bentuk dan ukuran, dapat dicetak, ukuran kecil, tebal karton 0.014-0.032 in dan relatif kuat. Salah satu atau kedua sisi karton dapat diputihkan dengan cara solid bleched sulfate board dan sulfite board. Macam produk yang dikemas menentukan jenis bahan dan model. Dalam perdagangan dikenal sebagai FC (Folding Carton). Kadang dilaminasi dengan plastik; Lapisan luar untuk cetak atau promosi; dan lapisan dalam untuk meningkatkan daya tahan minyak.

KERTAS KOMPOSIT

Merupakan kertas/karton yang diolah bersama bahan kemasan lain (plastik, logam, plastik dan logam). Manfaat: daya rapuh rendah, daya kaku rendah dan kekuatan bahan tinggi. Konstruksi kemas komposit :
·      bentuk spiral
Terdiri dari beberapa lapis bahan yang berbeda, sudut sambungan bertumpang tindih
·      bentuk cuping dijahit (lapisan seam)
Dibuat dari bahan yang dilaminasi, dipotong sesuai dengan pola kemudian disambuang.
·      komposit gulung
Terdiri dari beberapa lapisan kumparan Penggunaan untuk jus sitrun, konsentrat sari buah, rempah-rempah, sop kering, sedangkan untuk non pangan sebagai bahan kimia dan obat tanaman. Penyempurnaan kemas komposit yaitu diberi laminasi dengan foil atau bahan lain kemas komposit yang tahan tekanan vakum pada suhu 50° C.

KEMASAN KARTON GELOMBANG
·      Kraft liner
Adalah kertas kasar yang berwarna coklat kuning ke-abu-abuan, hasil proses pembuatan kertas dengan bahan baku batang kayu dari jenis pohon berdaun jarum. Kayu dari jenis pohon ini yang paling sesuai untuk bahan pembuatan kertas karena mempunyai serat-serat selulosa yang relatip panjang-panjang.
·      Medium
Bahan medium pada dasarnya sama dengan kraft liner, hanya bahan-bahan bakunya lebih tidak memerlukan syarat kemurnian yang tinggi, lagi pula proses pembuatannya lebih sederhana, sehingga lebih murah. Maka pembuatannya di Indonesia sudah lebih dahulu dari pada kraft liner.

Kekuatan Kotak Karton Gelombang
Tujuan utama pemakaian KKG ialah untuk melindungi produk di dalamnya (yang telah dikemas dengan kemasan inti dan kemasan jualnya) dari unsure perusak selama distribusi. Unsur perusak selama distribusi ini terutama ialah perubahan keadaan alam, air/lembab dan gaya-gaya mekanis.

KEMASAN EDIBLE
Edible packaging pertama kali dikenal di Cina pada abad 12 dan 13, dimana jeruk dan oranges dicelup lilin lebah cair untuk mengatur laju respirasi sehingga proses pematangan bisa dikontrol. Aplikasi edible film antara lain pada daging beku, ayam beku, hasil laut, confectionary, dan makanan semi basah. Edible fil ditambah dengan pengawet bisa menjadi antimikroba (misal benzoat, propionat); pengawet (sorbat); fungisida (benomyl, captan); antioksidan (askorbat, BHA, BHT); dan sequestran (sitrat).
Penyusun utama edible packaging adalah hidrokoloid, lipida, dan komposit. Hidrokoloid terdiri dari protein, selulosa, alginat, pektin dan pati yang berguna untuk mencegah reaksi deteriorasi dan bersifat polar/tahan lemak. Lipida terdiri dari lilin, acylglycerol, asam lemak dan berguna untuk mencegah atau menahan difusi uap air. Sedangkan komposit terbuat dari campuran hidrokoloid dan lipida, bersifat hidrofobik.
Bahan baku edible packaging antara lain adalah :
Protein
Terdapat empat jenis, yaitu albumin (protein larut dalam air), globulin (protein larut dalam garam), prolamin (protein larut dalam alkohol dan air), glutelin (protein larut dalam asam/basa). Protein dapat berasal dari zein jagung, glutein gandum, dan protein kedelai.
Lipida dan Resin
Bahan baku lipida adalah parafin, lilin, polietilen, minyak mineral, asam lemak, monogliserida. Sedangkan bahan baku resin adalah shellac, wood resin, dan coumaronindene. Cara pengemasannya adalah dengan coating, sprying, dipping, foaming, brushing dari larutan emulsi.

Karbohidrat
1. Sellulosa dan turunan sellulosa
Sumber karbohidrat ini larut dalam aqueous ethylenediamin dan tembaga hidroksida. Pelarutan polimernya dilakukan dengan menambah tepung; pengadukan kering tepung; pelarutan dalam pelarut miscible (gliserin, ethanol, PG) ; penggunaan alat (Hercules jet ejector).
2. Pati termodifikasi
Berguna untuk menghilangkan ikatan hidrogen dan mengkonversikan rantai amylopektin menjadi unit polimer amylosa. Merupakan formula untuk coatin produk permen, buah-buahan, anggur, dan kacang-kacangan.
3. Pektin
Sebagai coating, pektin ini dapat memperbaik penampakan, tidak lengket, dan tidak beracun.
4.   Ekstrak rumput laut
Ada tiga, yaitu karagenan, alginat, dan agar. Karagenan terbuat dari rumput laut merah Chondrus crispus, fungsinya untuk membentuk gel; stabilisator suspensi dan emulsi; memperbaiki viskositas; memperbaiki penampakan; menjaga humiditas; dan memperpanjang umur simpan. Alginat terbuat dari rumput laut coklat Macrocystis pyrfera, Laminaria hyberborea, L.digitata, Aschophyllum nodosum. Gelnya mengandung L-gulopyranosiluronik yang keras, kaku, dan kurang elastik. Penambahan glycerol pada alginat berguna untuk plasticizer. Flavor-tex (coating alginat komersial) dapat mengurangi ketengikan, pengkerutan, migrasi uap air dan penyerapan minyak. Agar terbuat dari rumput laut merah Rhodopyceae.
5. Polisakarida dari getah pohon
Contohnya adalah gum arabik yang merupakan kompleks heteropolisakarida dari pohon Acacia senegal, yang bersifat larut dalam air dingin dan tidak larut dalam alkohol. Sebagai bahan coating, gum arab dapat menahan uap air, memperbaiki penampakan dan mencegah oksidasi/ pencoklatan.
6. Polisakarida dari biji-bijian
Misalnya adalah locust bean gum, bersifat tidak larut dalam air dingin dan pelarut organik serta larut pada air panas. Sebagai bahan coating berguna untuk mengikat air.
7.   Polisakarida dari hasil fermentasi
Contohnya adalah xanthan gum yang diproduksi oleh bakteri Xanthomonas campestris.. Sebagai polimer dalam industri pangan, xanthan gum berguna sebagai pengental, suspensi, dan stabilizer.

Aplikasi Edible Packaging pada Kemasan
1. Aplikasi edible coating
Ada lima aplikasi, yaitu pencelupan (dip application), penyapuan dengan busa (foam application), penyemprotan (spray application), penetesan (drip application), dan penetesan terkontrol (controlled drip aplication). Pencelupan (dip application) mempunyai keuntungan antara lain ketebalan materi coating yang lebih besar serta memudahkan pembuatan dan pengaturan viskositas larutan. Kerugiannya adalah munculnya deposit kotoran dari larutan, sehingga buah harus benar-benar bersih dan kering. Penyapuan dengan busa (foam application) dibuat dengan menambah foaming agent atau udara pada emulsi, kemudian diaduk sampai homogen. Untuk penyapuannya digunakan sikat atau kain lembut dengan sistem batch dan kontinu. Penyemprotan (spray application) dilakukan dengan menggunakan nozlzle bertekanan rendah yang dilengkapi kontrol kecepatan nozzle, tekanan nozzle, ketebalan coating, dan lama penyemprotan. Dalam penetesan (drip application) larutan coating diterapkan langsung ke permukaan obyek; diteteskan melalui sikat; atau dengan menggunakan kran penetes yang disesuaikan dengan besarnya aliran yang dikehendaki. Penetesan terkontrol (controlled drip aplication), merupakan metode spray application yang disertai alat pengontrol otomatis.

2. Enkapsulisasi komponen flavor
Berguna untuk memperoleh komponen flavor yang berstruktur solid, melindungi komponen flavor dari reaksi kimia seperti oksidasi, dan memudahkan penyimpanan serta memperpanjang umur simpan. Metode enkapsulisasi yang digunakan antara lain adalah spray drying dan ekstruksi. Pada metode spray drying, emulsi dengan kadar air 40% bb dihomogenisasi, dipompakan ke nozzle spray dryer dan disemprotkan ke ruang pemanas (200 –
235°C). Bahan yang digunakan adalah maltodekstrin, padatan, syrup jagung, pati termodifikasi dan gum acacia. Sedangkan pembuatan ekstruksi dilakukan dengan membuat adonan (karbohidrat), menambah flavor (10 – 20%), pembentukan emulsi, dan ekstruksi adonan.

Edible Film
Edible film adalah lapisan tipis yang dibuat dari bahan yang dapat dimakan, diletakkan diantara komponen makanan yang berfungsi sebagai barrier terhadap transfer massa (misal kelembaban, oksigen, lipid dan zat terlarut) dan sebagai carrier bahan makanan dan aditif untuk meningkatkan penanganan makanan. Edible film telah banyak dibuat dengan menggunakan komponenkomponen polisakarida, lipid dan protein. Edible film dari komponen proteinlipid
Edible film yang dibuat dari hidrokoloid merupakan barrier yang baik terhadap transfer oksigen, karbohidrat dan lipid. Kebanyakan dari film hidrokoloid memiliki sifat yang baik sehingga sangat baik untuk dijadikan bahan pengemas. Film hidrokolid umumnya mudah larut dalam air sehingga sangat menguntungkan dalam penggunaannya. Penggunaan lipid sebagai bahan pembentuk film secara sendiri sangat terbatas karena film yang terbentuk umumnya tidak kuat. Hidrokoloid termasuk ke dalam protein dan polisakarida. Dalam hal ini selulosa dan turunannya merupakan sumber daya organik, memiliki sifat mekanik yang baik untuk pembuatan film. Selulosa sebagai bahan untuk pembuatan film sangat efisien sebagai barrier terhadap oksigen dan hidrokarbon dan sifatnya sebagai barrier terhadap uap air dapat dibuktikan dengan penambahan lipid.

Bahan Edible Film
Methylcellulose
Methylcellulose (MC) diperoleh dengan mereaksikan cellulose fiber dengan caustic soda menjadi alkali cellulose. Alkali cellulose dibuat dengan cara perendaman caustic pada serat selulosa. Kemudian direaksikan dengan methyl ether berdasarkan reaksi eterifikasi Williamson pada suhu 50-1000C dan tekanan 14 kg/cm2 selama beberapa jam. Hasil reaksinya adalah methyl
ether cellulose.
Perubahan beberapa grup hidroksil (OH) molekul selulosa menjadi grup metil eter, meningkatkan kelarutan dalam air dari molekul selulosa dan mengurangi kemampuan untuk menyatu kembali. MC akan membentuk film dengan kekuatan tinggi, film yang jernih, larut dalam air, tidak berminyak, memiliki laju oksigen dan kecepatan transmisi uap air yang rendah.
Methylcellulose berwarna putih, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak bersifat toksik. Protein dan polisakarida sering dihubungkan dengan subtansi hidrofobik seperti lipid, untuk meningkatkan efisiensi barrier. Hal ini menyebabkan pembuatan film sering melibatkan lipid.

Lilin Lebah
Lilin adalah ester yang terbentuk dari asam lemak dengan alcohol monohidrat ranatai panjang. Lilin lebah atau beeswax sebagian besar tersusun atas ester seril miristat. Sarang lebah merupakan malam atau lilin dibentuk oleh lebah dari lilin sebagai bahan utama dan diperkuat denagn bahan perekat yang disebut propolis. Lilin lebah dibentuk melalui proses kimia dengan madu sebagai bahan baku dan untuk membuat kilogram lilin diperlukan empat kilogram madu. Beeswax, carnauba wax dan parrafin ditemukan dapat meningkatkan resisten trasfer uap air pada film. Beeswax disekresikan oleh lebah madu untuk membangun sisiran sarangnya. Beeswax diperoleh dengan sentrifugasi madu dari sisiran sarang tersebut. Kemudian dicairkan dengan air panas dan uap. Lilin dapat dimurnikan dengan tawas diatomae dan karbon aktif, di bleach dengan permanaganat / bikromat.

Plasticizer
Plasticizer diidefinisikan sebagai bahan non volatil, bertitik didih tinggi yang jika ditambahkan pada material lain dapat merubah sifat fisik dari material tersebut. Penambahan plasticizer dapat menurunkan kekuatan intermolekuler, meningkatkan fleksibilitas film dan menurunkan sifat barrier film.
Gliserol dan sorbitol merupakan plasticizer yang efektif karena memiliki kemampuan untuk mengurangi ikatan hydrogen internal pada ikatan intromolekuler.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar