Kamis, 27 Februari 2014

HEREDITAS



BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Hereditas adalah suatu proses penurunan sifat-sifat dari induk keketurunannya melalui gen dan bukan dalam bentuk tingkah laku melainkan struktur tubuh. Hereditas sangat penting dalam pembelajaran Ilmu pemulian ternak, karna hereditas membahas tentang sifat-sifat yang diturunkan induk pada anaknya. Sifat-sifat yang diturunkan tersebut bisa sifat yang unggul atau bagusnya, tetapi juga sifat-sifat yang tidak menguntungkan peternak.
Sebagai contoh di silangkan sapi pesisir asli sumatera barat dengan sapi simental (dimana sapi ini bobot hidupnya bias mencapai 1 ton). Secara teori bila induknya sapi pesisir meberima IB dari sapi simental maka berat anak yang d hasilkan setengah dari jumlah kedua induknya. Dimana dapat di jelaskan dengan cara seperti ini.
Induk betina sapi pesisir beratnya 300 kg
Induk jantan sapi simental beratnya 860 kg
                     
Jadi, pertambahan bobot badan sapi berambah 250 kg.
B.     Tujuan
·         Pelengkap tugas mata kuliah Ilmu Pemuliaan Ternak
·         sebagai bahan untuk ujian tengah semester (UTS)









BAB II
A.    Pengertian Hereditas
Hereditas adalah suatu proses penurunan sifat-sifat dari induk keketurunannya melalui gen dan bukan dalam bentuk tingkah laku melainkan struktur tubuh. Pendapat ini dicetuskan oleh Witherington. Secara umum hereditas diartikan sebagai pewarisan sifat dari induk ke keturunannya baik secara biologis melalui gen (DNA) atau secara sosial melalui pewarisan gelar, atau status sosial. Pewarisan sifat ini biasanya berhubungan dengan struktur tubuh dan bukan tingkah laku. Karena tingkah laku makhluk hidup lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Hereditas adalah sebuah konsep yang telah berkembang sejak zaman filsuf Yunani kuno. Dari Theophrastus, Hiprokrates, Aristoteles hingga Aeskhylus. Hiprokrates menduga bahwa "benih/sifat" diproduksi oleh berbagai anggota tubuh dan di wariskan pada saat pembuahan. Sedang Aristoteles menduga bahwa semen pejantan dan betina becampur pada saat pembuahan. Konsep tentang hereditas yang lebih ekstrim lagi adalah teori Pangenesis yang mempercayai bahwa pewarisan sifat berhubungan erat dengan hubungan darah. Karena itu muncul istilah darah murni, darah turunan, dan darah bangsawan. Teori Pangenesis kemudian di patahkan oleh Francis Galton, sepupu dari Charles Darwin melalui sebuah percobaan.

B.     Interaksi Hereditas
Hereditas pada individu merupakan bawaan sejak lahir. Bawaan/warisan atau hereditas tersebut berasal dari kedua orang tuanya (Genes) dan tidak dapat direkayasa. Bawaan memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Ia lahir membawa berbagai ragam warisan yang berasal dari kedua ibu-bapak atau kakek-nenek.
Warisan atau turunan tersebut yang terpenting, antara lain: bentuk tubuh, raut muka, warna kulit, intelegensi, bakat, sifat-sifat, dan penyakit.
1.      Bentuk Tubuh dan Warna Kulit
Salah satu warisan yang dibawa oleh anak sejak lahir adalah mengenai bentuk tubuh dan warna kulit. Misalnya ada anak yang memiliki bentuk tubuh gemuk seperti ibunya, wajah seperti bapaknya, warna kulit putih seperti ibunya.

2.      Sifat-Sifat
Sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang adalah salah satu aspek yang diwarisi dari ibu, ayah, atau kakek dan nenek. Bermacam-macam sifat yang dimiliki manusia, misalnya: Penyabar, pemarah, kikir, pemboros, hemat dan lain sebagainya.
Sifat-sifat tersebut dibawa manusia sejak lahir. Ada yang dapat dilihat atau diketahui ketika kecil dan ada pula yang diketahui sesudah ia besar.
Sifat atau tabiat berbeda dengan kebiasaan. Sifat sangat sukar diubah, sedangkan kebiasaan dapat diubah setiap saat bila dikehendaki dengan sungguh-sungguh.
3.       Intelegensi
Istilah intelegensi berasal dari kata Latin intelligence yang berarti menghubungankan atau menyatukan satu sama lain(¬to organize, to relate, to bind together) (Walgoti,1997).
Intelegensi menurut David Wechler (1958) didefinisikan sebagai keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.
Intelegensi adalah kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah. Kemampuan yang bersifat umum tersebut meliputi berbagai jenis kemampuan psikis seperti: abstrak, berpikir mekanis, matematis, memahami, mengingat, berbahasa dan sebagainya.
Intelegensi seseorang dapat diketahui secara lebih tepat dengan menggunakan tes intelegensi. Ukuran intelegensi dinyatakan dalam IQ (Intelligence Quotient).

4.       Bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol di antara berbagai jenis kemampuan yang dimiliki seseorang. Kemampuan khusus itu biasanya berbentuk keterampilan atau suatu bidang ilmu, misalnya kemampuan khusus (bakat) dalam bidang seni musik, seni suara, olahraga, matematika, bahasa, ekonomi, teknik, keguruan, social, agama, dan sebagainya. Seseorang umumnya memiliki bakat tertentu yang terdiri dari satu atau lebih kemampuan khusus yang menonjol dari bidang lainnya. Tetapi ada juga yang tidak memiliki bakat sama sekali, artinya dalam semua bidang ilmu dan keterampilan dia lemah atau sedang. Ada pula sebagian orang memiliki bakat serba ada, artinya hampir semua bidang ilmu dan keterampilan, dia mampu dan menonjol. Orang seperti itu tergolong istimewa dan sanggup hidup di mana saja.
Bakat sebagaimana halnya dengan intelegensi merupakan warisan dari orang tua, nenek, kakek dari pihak ibu dan bapak. Warisan dapat dipupuk dan dikembangkan denganbermacam cara terutama dengan pelatihan dan didukung dana yang memadai. Seseorang yang memiliki bakat tertentu sejak kecilnya, namun tidak memperoleh kesempatan untuk mengembangkannya sebab tidak memiliki dana untuk latihan, maka bakatnya tidak dapat berkembang. Hal seperti ini dikatakan bakat terpendam.
Pada umumnya anak-anak mempunyai bakat dapat diketahui orang tuanya dengan memperhatikan tingkah laku dan kegiatannya sejak dari kecil. Biasanya anak memiliki bakat dalam suatu bidang, dia akan gemar sekali melakukan atau membicarakan bidang tersebut.





5.       Penyakit
Beberapa penyakit bisa berasal dari turunan, seperti penyakit kebutaan, syraf, dan luka sulit kering (darah keluar terus, hemopili).
Penyakit yang dibawa sejak lahir akan terus mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak.

C.    Pola-pola hereditas
1. Reproduksi Sel
a. Reproduksi pada Tingkat Sel
Pembelahan sel terjadi karena dua proses utama, yaitu pembelahan inti (kariokinesis) dan pembelahan sitoplasma (sitokinesis).

1) Amitosis
Pembelahan langsung suatu sel.
amitosis.jpg

2) Mitosis
Tujuan pembelahan mitosis: membantu sel dalam memelihara ukuran, terjadi keseimbangan jumlah DNA dan RNA, untuk pertumbuhan dan perkembangan organ dan tubuh organisme, untuk mengganti sel yang rusak atau mati.
siklus sel.jpg
Siklus sel

mitosis
mitosis.jpg


3) Meiosis
Pembelahan sel yang menghasilkan sel anak dengan jumlah kromosom setengah dari sel induknya.
meosis.jpg

                        b. Gametogenesis pada Hewan dan Manusia
1) Spermatogenesis
2) Oogenesis
spermatogenesis.jpg

            2. Hukum Mendel
Hukum 1 Mendel mengungkapkan bahwa dua alel yang mengatur sifat tertentu akan terpisah pada dua gamet yang berbeda.
hukum mendel 1.jpg
Hukum II Mendel mengungkapkan bahwa setiap pasang alel terpisah secara bebas pada setiap gamet.
a. Hibridisasi
1) Monohibrid
Persilangan yang hanya menggunakan satu macam gen yang berbeda atau menggunakan satu sifat beda.
2) Dihibrid
Persilangan yang menggunakan dua sifat beda atau dua pasang kromosom yang berbeda.
3) Polihibrid
Persilangan tiga atau lebih sifat beda.




3. Penyimpangan Semu Hukum Mendel
a. Komplementer
            Bentuk interaksi gen yang saling melengkapi.

b. Polimeri
Dua gen atau lebih yang menempati lokus berbeda, tetapi memiliki sifat yang sama.

c. Epistasis dan Hipostasis
Salah satu bentuk interaksi antar gen dominant yang mengalahkan gen dominant lainnya

1) Epistasis Dominan
Adanya satu gen dominan yang bersifat epistasis.

2) Epistasis Resesif
Terdapat gen resesif yang bersifat epistasis.


d. Kriptomeri
Suatu sifat yang tersembunyi pada induk dank an muncul pada anaknya atau keturunannya.


4. Intermediet
            Gen yang tidak dominan dan tidak resesif.


5. Gen Berpautan
            Gen-gen yang terletak pada kromosom yang sama.


6. Pindah Silang
Proses pertukaran gen antara kromatid-kromatid yang bukan pasangan duplikasi pada sepasang kromosom homolog.
pindah silang.jpg



7. Gen Terpaut Seks
            Gen yang terletak pada gonosom atau kromosom seks.
a. Cacat dan Penyakit Menurun yang Terpaut Kromosom Seks.
1) Hemofilia
Penyakit keturunan yang mengakibatkan darah seseorang sukar membeku.. Penyakit ini dikendalikan oleh gen resesif (h) yang terpaut kromosom X.
hemofilia.jpg



2) Buta warna
Penyakit keturunan yang disebabkan oleh gen resesif cb. Gen buta warna terpaut pada kromosom seks X.

3)  Hypertrichosis
Penyakit turunan berupa turunnya rambut di bagian tertentu daun telinga.Gen penyakit ini terpau kromosom Y.

a. Cacat dan Penyakit Menurun yang Tidak Terpaut Kromosom Seks.
1) Albino
Kelainan yang terjadi pada warna kulit dan organ tubuh lainnya. Gen albino dikendalikan oleh gen resesif a.

                                    2) Polidaktill
Memiliki jumlah jari tangan dan kaki lebih banyak dari orang normal. Gen polidaktill dikendalikan oleh gen dominan P.

3) Diabetes Melitus
                        Kelainan pada tubuh sehingga glukosa terbuang bersama urine.

4) Thalasemia
Kelainan genetic yang disebabkan oleh rendahnya kemampuan pembentukan hemoglobin karena terjadi gangguan pada salah satu rantai globin.


8. Penentuan Jenis Kelamin
a. Sistem Kromosom Kelamin XY
b. Sistem Kromosom Kelamin XO
c. Sistem Kromosom Kelamin ZW

9. Gen Letal
a. Gen letal resesif
            Gen yang dalam keadaan genotype homozigot resesif menyebabkan kematian.
b. Gen letal dominant
            Gen yang dalam keadaan genotype homozigot dominan menyebabkan kematian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar