BIOTEKNOLOGI INDUSTRI
SUSU
Sumber ringkasan :
Widodo. 2003. Bioteknologi Industri Susu. Cetakan 1.
Lacticia Press: Yogyakarta
KIMIA DAN MIKROBIOLOGI SUSU
Bioteknologi
merupakan suatu bentuk aplikasi teknologi yang melibatkan organism hidup
(mikroba, tanaman, binatang, dan manusia) dalam usaha untuk menghasilkan
berbagai produk dengan nilai guna dan daya guna yang tinggi. Perkembangan
terbaru dari aplikasi bioteknologi pada produk susu adalh pengembangan bakteri
asam laktat (BAL), yang merupkan bakteri starter dalam fermentasi susu sebagai
probiotik.
Susu merupakan bahan pangan yang
dihasilkan slama periode laktasi oleh hewan menyusui dengan tujuan utama
sebagai sumber nutrisi dan memberikan system kekebalan bagi anak yang baru
dilahirkannya. Susu yang bebas dari kolostrum mengandung 8.25% padatan bukan
lemak (solid non fat) dan 3.25% lemak susu (ennes, 1988). Susu dapat diartikan
sebagai :
1.
Emulsi dari globula lemak yang mengandung lemak
susu, vit. Lrut lemak, dan membrane globula
2.
Suspense koloid dari misel kasein (mengandung
casein, kalsium phospat, sitrat dan air), partikellipoprotein dan protein
globular)
3.
Larutan yang tersusun atas laktosa, protein
terlarut, mineral, vitamin, enzim, zat asam, dan berbagai komponen lainnya.
Kandungan utama susu lemak, protein,
laktosa (disakarida), abu, padatan total (total solid), garam, mineral, pigmen,
enzim, vitamin, dan leukosit (white blood corpuscles). Plasma susu adalah susu
yang tidak mengandung globula lemak dengan komposisi yang hamper sama susu skim
dengan perbedaan susu skim masih mengandung lemak hasil proses separasi yang
tidak sempurna. Serum susu adalah plasma susu tanpa mengandung misel kasein
dengan komposisi yang hamper sama dengan whey dengan perbedaan whey masih
mengandung berbagai produk proteolitik dari enzim chymosin.
Komposisi kimia susu (goff and
hill, 1993) :
|
Komposisi
|
Kandungan %
|
|
Air
|
87
|
|
Padatan total
|
13
|
|
Padatan bukan lemak
|
9
|
|
Lemak
|
4
|
|
Laktosa
|
4.7
|
|
Protein
|
3.5
|
|
mineral
|
0.8
|
|
|
|
Kompossi pakan berpengaruh besar
pada kualitas lemak dengan dengan sedikit pengaruh pada kualitas protein susu
(Sutton, 1989 ; grant et al, 1990). Musim juga mempengaruhi kualitas lemak dan
protein susu.
1.
Lemak susu
Lemak dalam suspense susu terdistribusi dalam bentuk emulsi. Emulsi
lemak dalam susu terjadi karena keberadaan lemak terdispersi dalam fase air
(oil in water emulsion). Keberadaan lemak biasanya dalam bentuk globula lemak
yang terlindungi oleh membrane globula. Globula lemak merupakan partikel
terbesar dalam susu dengan diameter 0.1-20 µm dan ukurannya 3-4 µm. Dalam 1ml
suspense susu tersusun atas 3000-4000 uta globula lemak. Globula lemak
merupakan komponen utama pembentuk lapisan krim pada saat suspensi susu
dibiarkan tenang dalam suatu wadah. Membran globula berfungsi untuk melindungi
lemak dari pengaruh enzim yang terdapat dalam susu serta mencegah flokulas pada
globula.
90% dari komponen lemak susu adalah asam-asam lemak yang terbagi atas
asam lemak tidak jenuh (unsaturated fatty acid) dan asam lemak jenuh (saturated
ftty acid). Setiap molekul gliserol dapat mengikat 3 molekul asam lemak yang
berbeda, yang sangat menentukan terhadap kekerasan suatu lemak. Asam lemak
jenuh yang dominan dalam lemak susu secara berurutan adalah miristat, palmitat,
dan stearat yang berbentuk padat pada suhu kamar. Sedangkan asam lemak tidak
jenuh yang terkandung adalah asam oleat dg kisaran 30-40% pada suhu kamar
berbentuk cair.
Sifat fisik lemak yang sudah diketahui diantaranya : (goff and hill,
1993)
·
Densitas pada suhu 20° c sebesar 915 kg/m3
·
Indeks refraksi (598nm) sebesar 1,462
·
Kelarutan air dalam lemak0,14%
·
Konduktivitas termal pada suhu 20° c sebesar
0,17 J/msk
Salah satu parameter untuk menentukan kekerasan lemak adalah angka
iodine. Angka ini menyataka persentase dari iod yang dapat diikat oleh lemak
khususnya oleh ikatan rangkap dalam asam lemak tidak jenuh (misal asam oleat).
Hijauan pada musim panas meningkatkan asam oleat, sehingga lemak susu pada
musim panas dapat bersifat lunak.
Lemak susu memiliki nilai yang lebih baik disbanding
lemak nabati, karena lemak susu mempunyai beberapa keuntungan seperti penentu
flavor dan cita rasa, bersifat alami dan saat ini dikembangkan sebagai komponen
untuk membuat mentega dan keju.
Proses pemecahan lemak oleh aktivitas enzim lipase
menjadi gliserol dan asam lemak disebut lipolisis (lypolytic) atau proses
ketengikan hidrolitik (hydrolyticrancidity). Lipolisis dapat menyebabkan bau dan
rasa tengik yang disebabkan karena adanya asam lemak bebas spt butirat dan
kaproat. Lipolisis disebabkan oleh adanya enzim lipase (lipase lipoprotein)
yang sangat aktif pada temperature tinggi dan terjadi pada lemak yang mengalami
kerusakan pada membrane globula. Enzim lipase bersifat tahan panas, sering
dihasilkan oleh bakteri psikrofilik, bersifat eksoseluler dan tidak
mengakibatkan lipolisis jika globula lemak tidak rusak (cousin, 1982; law,
1979). Laju lipolisis dipengaruhi oleh : pH susu yang cukup tinggi (6.6-6.8)
san suhu penyimpanan (optimum pada pH 8.3 suhu 37° c). Sekitar 80% lipase
terikat pada misel kasein, 10-20% terdapat pada serum susu, sdan 0-10% terdapat
pada globula lemak (goff and hill, 1993).
Oksidasi lemak susu dan lemak lainnya biasanya diawali
oleh reaksi auto-oksidasi yang berlagsung melalui tahap inisiasi, propagasi dan
terminasi. Proses inisiasi melibatkan phospolipid yang terdapat pada membrane
globula lemak. Selama propagasi, senyawa anti oksidan semakn berkurang sedangkan
peroksidase akan semakin terakumulasi. Peroksidase akan mengalami reaksi lebih
lanjut dan menghasilkan senyawa karbonil yang berpotensi menghasilkan
flavor seperti keton dan aldehid.
Auto-oksidasi biasanya disebabkan oleh adanya berbagai factor intrinsic seperti (a) adanya senyawa mettaloprotein spt
peroksidase susu dan xantine oxidase, (b) asam askorbat endogen yng beraksi
sebagai ko-katalis dengan zat tembaga untuk memacu oksidasi, (c) kandungan zat
tembaga endogen dan (d) antioksidan endogen seperti tokopherol.
Faktor ekstrinsik terjadinya proses oksidasi adalah :
kontaminasi logam, suhu penyimpanan, pengaruh pemanasan, pengadukan, cahaya,
dan keasaman. Laju auto-oksidasi diketahui meningkat dengan terjadinya
peningkatan suhu kecuali pada susu mentah dan
susu pasteurisasi. Pemanasa menyebabkan teradinya perpindahan zat tembaga
dari plasma susu ke globula lemak sehingga sehingga memacu oksidasi. Namun
pemanasan sampai diatas 80° c diketahui mampu menstabilkan susu terhadap
kemungkinan terhadap oksidasi yang diinduksi oleh zt tembaga dan cahaya (ford
et al, 1986), hal ini diduga karena pelepasan hydrogen sulfide dari protein
yang terdenaturasi yang diketahui mampu mengikat zat tembaga dalam cupric
sulfide.
2.
Protein susu
Protein susu adalah molekul yang
tersusun atas unit-unit asam amino. Karakteristik asam amino adalah adanya ikatan
antara grup amino dan karboksil. Protein susu diperkirakan mengandung 25 asam
amino yang berbeda, beberapa diantaranya adalah asam amino esensial ang sangat
penting bagi tubuh. Secara umum protein susu terbagi atas 4 komponen besar
yaitu : kasein, albumin, globulin, dan
protein membrane. Sedangkan komponen kecil nya yaitu : serum transferin,
laktoferin, mikroglobulin, glikoprotein, dan ceruloplasmin.
Kasein merupakan protein utama
susu (80% atau sekitar 2,8% dari kompossi kimia susu). Kasein murni berwarna
putih dan tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut basa atau asam yang
kuat. Protein ini terdiri atas alpha, betha dan kappa kasein. Kasein mempunyai
kandungan residu prolin yang tinggi dan terdistribusi secara merata sepanjang
rantai polipeptida. Keberadaan kasein dalam susu biasanya dalam bentuk partikel
koloid yang terkenal dengan nama misel kasein sebagai akibat interaksi antara
kasein kaseinat dan kalsium phospat. Misel kasein biasanya stabil terhadap
pengeringan, ultra-filtrasi dan pelletasi, namun akan rusak oleh adanya asam
dan enzim chymosin. Ukuran misel kasein berkisar antara 25 nmsampai 140 nm
(ukuran globulanya lebih kecil disbanding globula lemak) (Schmidt, 1982).
Komposisi kandungan kering misel
kasein dari susu sapi pada suhu kamar (g/100gr) (Schimdt,1982) :
|
Komponen
|
Kandungan
(g/100)
|
|
αs1-kasein
|
35.6
|
|
αs2-kasein
|
9.9
|
|
Β-kasein
|
33.6
|
|
k-kasein
|
11.9
|
|
Fragmen-fragmen kasein
|
2.3
|
|
Total Kasein
|
93.3
|
|
Kalsium
|
2.87
|
|
magnesium
|
0.11
|
|
Sodium
|
0.11
|
|
Potassium
|
0.26
|
|
Phospat anorganik (PO4)
|
2.89
|
|
Sitrat
|
0.40
|
|
Total bahan
anorgaik
|
6.6
|
Faktor-faktor yang berperan dalam
pembentukan dan stabilitas misel kasein adalah : peranan koloid kalsium
phospat, ikatan disulfide, ikatan hydrogen, interaksi hidropobik, interaksi
elektrostatik, dan gaya van der walls (Thompson and farrel, 1979; Payens, 1982;
Walstra, 1990). Misel kasein dapat mengalami agregasi / presipitasi dan membentuk
agregat. Beberapa factor yang memicu agregasi kasein adalah : aksi dari enzim
proteolitik chymosin pada k-kasein, agregasi kasein dengan asam, agregasi
karena pemanasan.
Protein whey menyusun 20% dari total
kandungan protein. Komponen utama dari protein whey ini adalah β-laktoglobulin
dan α-laktalbumin, dan komponen lain dalam jumlah kecil : bovin serum albumin
dan immunoglobulin. Pada proses pembuatan keju, α-laktalbumin tetap larut da
terdapat pada whey. Dengan demikian α-laktalbumin disebut juga dengan protein
whey. Pada pemanasan 60°c, protein ini akan mulai mengalami presipitasi dan
melekat pada permukaan yang panas. Sedangkan β-laktalbumin merupakan protein
whey yang jumlahnya sangat kecil dan mengalami presipitasi jika susu dipanaskan
pada suhu 70° c.
Protein membrane globula adalah
protein yang terdapat pada membrane globula lemak. Komponen utama protein ini
adalah lipoprotein yang merupakan gabungan antara lemak dan protein. Menurut
Goff and Hill (1993), kandungan protein dalam membrane globula lemak adalah 900
mg/100gram globula. Protein membrane merupakan penyusun sekitar 5% dari protein
susu. Bersama-sama dengan phospholipids dan komponen lainnya (cerebrosid
gangliosid, kolesterol, hidrokarbon, karotenoid, besi, tembaga, dan molybdenum),
protein membrane ini menyusun membrane globula yang mempunyai peran penting
untuk melindungi lemak dari serangan enzim dan mencegah flokulasi.
Asam amino pada protein susu mempunyai
muatan elektrik yng sering ditentukan oleh pH susu. Pada pH netral beberapa
jenis asam amino seperti aspargin dan asam glutamine mempunyai muatan negative,
sedangkan yang lainnya seperti lisin dan arginin bermuatan positif. Jika
protein mengandung lebih banyak asam dari pada basa, maka pada pH netral akan
bermuatan positif, dan sebaliknya.
3. Laktosa
Laktosa merupakan komponen karbohidrat
utama dalam susu. Komposisi laktosa dalam susu mencapai 4.8-5.2% dalam bentuk
laktosa monohidrat. Komposisi laktosa dalam solid non fat (SNF) mencapai 52%,
sedangkan pada whey mencapai 70%. Kandungan laktosa pada susu berbeda karena factor
penyakit dan fase pemerahan. Disamping laktosa, susu juga memiliki komponen
karbohidrat yang lain yaitu, glukos (1mg/ml), galaktosa (1mg/ml), da
oligosakarida (0.1mg/ml) (Holsinger, 1988).
Laktosa disintesis di dikelenjer
mamae, dimana D-galaktosa digabungkan ke D-glukosa menggunaka enzim
galaktosiltransferase dan dengan batuan α-laktalbumin yag berperan sebagai
enzim modifier (Jones, 1977; Goff and Hill, 1993). Laktosa merupakan gula
pereduksi dengan gugus aldehid pada residu glukosa.
Fungsi utama laktosa pada berbagai
produk susu adalah sebagai subtrat fermentasi. Laktosa dapat didihidrosa
menjadi glukosa dan galaktosa oleh enzim β-D-galaktosidase (lactase). Kemampuan
produksi enzim ini pada bakteri asam laktat memberikan keuntungan dalam hal
kemampuan tumbuh bakteri asam laktat pada berbagai produk susu sehingga menekan
berbagai bakteri patogenik dan pembusuk. Hal ini yang menjadi sebab utama
mengapa susu fermentasi mempunyai nilai keamanan yang lebih tinggi.
Komponen minoritas pada susu :
a.
Vitamin
Vitamin merupakan
substansi organic yang terdapat dalam jumlah yang sedikit dalam susu tetapi
merupakan komponen nutrisi yang penting. Susu mengadung berbagai vitamin yang
larut lemak (A,D,E, dan, K), dn vitamin yang larut air (B1 /Thiamin, B2/ riboflavin, B6/piridoksin,
B12/sianokobalamin, niasin, dan asam asam pantothenat.
Vitamin merupakan sumber vitamin A
yang sangat penting. Vitamin-vitamin yang larut air mempunyai stabilitas yang
tinggi selama pemrosesan meskipun riboflavin diketahui sangat sensitive
terhadap cahaya.
b. Mineral
Mineral susu merupakansumber nutrisi
yang penting bagi manusia. Hal ini disebabkan oleh keberadaan 21 jenis mineral
pada susu yang merupakan mineral esensial bagi manusia. Komponen garam pada
susu termasuk sodium (Na), potassium (K), dan klorida (Cl) yang terdapat
sebagai ion bebas pada susu dan mudah berdifusi. Ketiga komponen ionic ini
mempunyai korelasi negative dengan laktosa karena dibutuhkan untuk menjaga
keseimbangan osmotic susu denga darah. Komponen lainnya adalah koloid kalsium
(Ca) dan magnesium (Mg), phosphor anorganik (Pi) dan sitrat.
Komponen lainnya dari garam mineral terdiri atas Ca terdifusi, sitrat
terdifusi, Ca2+, dan HPO42-. Konsentrasi Dari
komponen-komponen tersebut dipengaruhi oleh pH susu.
c. Enzim
pada susu
Enzim dikenal sebagai agensia
pemacu/biokatalisator suatu reaksi tetapi tidak ikut dalam reaksi tersebut.
Sebai katalisator, enzim bekerja secara spesifik dalam arti satu jenis enzim
mengkatalisis satu reaksi saja. Keberadaan enzim dalam susu sangat menentukan
tingkat kerusakan atau kualitas susu. Beberapa enzim terpenting yang ada pada
susu diantaranya adalah peroksidase, katalase, phospatase, dan lipase. Dua
factor utama yang mempengaruhi kerja enzim adalah suhu dan pH. Enzim akan aktif
pada suhu optimum antara 25-50° c, aktivitas enzim tersebut akan turun jika
suhu diturunkan dan inaktif pada suhu dibawah 5° c. Inaktivasi enzim inilah
yang mendasari adanya pengawetan atau penundaan susu dengan cara penyimpanan
pada suhu kulkas/refrigerator.
Komponen lain dalam susu:
1) Mikrobiologi
susu
Kandungan kimia dan nutrisi yang
tinggi pada susu dapat menjadi media yang bagus untuk pertumbuhan mikroba.
Berbagai jenis mikroba tumbuh dan berkembang dengan baik pada susu segar. Dua
kelompok utama mikroba tersebut adalah bakteri dan fungi. Bakteri adalah
mikrobia bersel satu dengan ukuran 0.4-1.5µm dan memiliki berbagai macam bentuk
mulai berbentuk bulat, panjang dan spiral. Bakteri ada yang ersifat gram
positif dan ada yag gram negative. Beberapa jenis bakteri dapat membentuk spora
sebagai bagian dari siklus perkembangbiakan generative. Bakteri dengan kemampuan
membentuk spora ini sering mengkontaminasi susu disebabkan karena ketahanan
spora terhadap proses pasteurisasi dan sterilisasi.
Beberapa kelompok bakteri yang sering
terdapat pada susu segar diantaranya:
a) Bakteri
Asam Laktat (BAL), bakteri ini bersifat kualitatif anaerobic dan mampu
menghasilkan enzim lactase sehingga mapu memecah laktosa sebagai sumber energy.
BAL juga mampu menghasilkan enzim proteolitik sehingga mampu memecah protein
menjadi asam-asam amino yang dibutuhkan bagi pertumbuhannya. Beberapa spesies
BAL (streptococcus thermophillus, dan lactobacillus bulgaricus) terkenal
sebagai starter untuk fermentas yoghurt, sedangkan beberapa spesies lain
seperti lactobacillus casei dimanfaatkan sebagai probiotik.
b) Baktri
koliform, bakteri ini bersifat fakultatif anaerobic dan terkenal karena sering
dipakai sebagai bioindikator tingkat higienitas dari susu. Beberapa spesies
dari bakteri koliform mampu menyebabkan penyakit mastitis pada ternak dan
menurunkan kualitas mikrobiologis susu. Pada proses pengolahan keju, keberadaan
bakteri koli dapat menyebabkan terjadinya penampakan yang keruh da terbentuknya
gas dalam jumlah yang besar.
c) Bakteri
asam butirat, bakteri ini dapat membentuk spora pada kondisi anaerobic dan biasanya optimum pada suhu pertumbuhan
37° c . Hasil fermentasi dari asam butirat ini adalah gas, CO2,
hydrogen dan asam butirat. Bakteri ini tidak musnah oleh pasteurisasi karena
adanya spora yang tahan panas. Salah satu cara mengendalikannya adalah dengan
penambahan bahan penghambat pertumbuhan seperti potassium nitrat atau sodium
klorida.
d) Bakteri
asam propionate, kebanyakan tidak mampu menghasilka spora dan mempunyai suhu
optimum pertumbuhan 30° c. Hasil fermentasi oleh bakteri ini adalah CO2,
asam propionat, dan produk lainnya. Bakteri ini sering dimanfaatkan dalam
proses pembuatan keju, khususnya jenis Greve dan Emmenthal.
e) Bakteri
pembusuk, bakteri ini biasanya mampu menghasilkan enzim proteolitik untuk
memecah protein dan menghasilkan ammonia dan biasanya juga mampu menghaslkan
lipase untuk memecah lemak.
Fungi (jamur) adalah mikrobia kedua setelah
bakteri yang sering terdapat pada berbagai produk susu. Fungi merupakan
mikrobia eukariotik dimana inti sel sudah dilapisi dengan membrane inti dan
organel didalam sel telah mengalami perkembangan yang lebih lengkap dibandingka
bakteri. Fungi dapat tumbuh pada kondisi asam dan optimum pada suhu 30° c. Secara
umum, fungi terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu kapang dan khamir. Kapang
(mould) merupakan jamur berbentuk benang-benang mikroskopis (misellium) yang
tersusun atas benang hifa yang diketahui berfungsi untuk absorbsi makanan dan
alat reproduksi vegetative. Kapang dapat merusak lemak dan protein dan
menyebabkan kerusakan pada keju dan mentega. Keberadaan kapang dapat
menyebabkan perubaha flavor seperti ketengikan.
2) Kerusakan
mikrobiologis susu
Komposisi kimia susu yang sangat baik
mampu beperan sebagai medium bagi pertumbuhaan mikroba yang merugikan. Susu
segar mengandung germisida (bakteriostatik), namun kandungan germisida sangat
terbatas kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan mikroba. Oleh sebab itu,
cara penanganan susu yang lebih baik perlu dilakukan dengan cara pendinginan
maupun pemanasan.
Sumber-sumber kontaminasi dapat
berasal dari jaringan susu yang sakit. Mikrobia kontaminan ini biasanya terdiri
atas streptococcus, staphylococcus, coliform, pseudomonas, corynebacterium,
clostridium, mycobacterium, dan nocardia. Sumber kontaminasi lainnya adalah
sapi yang sakit, permukaan tubuh hewan, dan alat penanganan.
REFERENSI :
Bartlett,
P.C., Miller, G.Y., Anderson, C.R. and Kirk, J.H. 1990. Milk Production and
Somatic Cell Count in Michigan Dairy Herds. J. Dairy Sci. 73:2794-2800
Cousin,
M.A. 1982. Presence and Activity of Psychrotrophic Microorganisms in Milk and
Dairy Produck: a review . Food Protect. 45:172-177
Cremin,
F.M. and Power, D. 1985. Vitamins in Bovine and Human milks. In: fox, P.F. (eds).
Development in dairy chemistry vol.3. Lactose and minor constituents. Elsevier.
New York
Flynn, A.
and Power, P. 1985. Nutritional aspect of minerals bovine and human milks. In:
Fox, P.F. (eds). Development in dairy chemistry vol. 3. Lactose and minor
constituents. Elsevier. New York. P:183-215
Ford, J.E.,
Schroeder, M.J.A., Bland, M.A., Blease, K.S. and Scott, K.J. 1989. Keeping
quality of milk in relation to the copper content and temperature of
pasteurization. J. Dairy. Res. 53:394
Goff, H.D.
and Hill, A.R. 1993. Chemistry and physics. In: Hui, Y.H (eds) Dairy Science
and Technology Handbook Principles and Properties. VCH Publisher Inc. p: 1-61
Grant,
R.J., Colenbrander, V.F. and Mertens, D.R. 1990. Milk fat depression in dairy
cows : role of particle size of alfalfa hay. J. Dairy Sci. 73:1823-1833
Harding, F.
1999. Milk Quality. Aspen Published Inc. Mayland
Holsinger,
V.H. 1988. Lactose. In : Wong, N.P. (eds). Fundamentals of dairy chemistry. 3rd
edition. Van Nostrand Reinhold,. New York. P:279-342
Jennes, R.
1988. Composition of Milk. In: Wong, N.P., Jennes, R., Keeney, M and Marth, E.H
(eds). Fundamentals of dairy chemistry. (3rd edit). Van Nostrand
Reinhold, New York. P:1-38
Law, B.A.
1979. Reviews of the Progress of dairy science: enzymes of psycrothropic
bacteria and their effect on milk and milk products. J. Dairy Res. 46:57-588
Payens,
T.A.J. 1982. Stable and unstable caseins micelles. J. Dairy Sci. 65:1863-1873
Schimdt,
D.G. 1982. Association of caseins and casein micelle structure. In: Fox, P.F.
(eds). Development in dairy chemistry vol.1. Applied Schience Publishers.
London. P:61-82
Shipe, W.F.
1964. Oxidations on the dark. J. Dairy Sci. 47:221-230
Sutton,
J,D. 1989. Altering milk composition by feeding. J. Dairy Sci. 72:2801-2814
Thompson,
M.P. and Farell, H.M. 1973. The casein micelle-the forces contributing to its
integrity. Netherlands Milk Dairy J. 27:220-239
Walstra, P.
1990. On the Stability of casein micelles. J. Dairy Sci. 73:1965-1979
Wang, C.F. and
King, R.L. 1973. Chemical and sensory evaluation of iron-fortified milk. J.
Food Sci. 38:938
Tidak ada komentar:
Posting Komentar