1. Konsep Manajemen
Dari segi bahasa manajemen berasal dari kata manage
(to manage) yang berarti “to conduct or to carry on, to direct”
(Webster Super New School and Office Dictionary), dalam Kamus Inggeris
Indonesia kata Manage diartikan “Mengurus, mengatur, melaksanakan,
mengelola”(John M. Echols, Hasan Shadily, Kamus Inggeris Indonesia) , Oxford
Advanced Learner’s Dictionary mengartikan ‘to
Manage’ sebagai “to succed in doing something especially
something difficult….. Management the act of running and controlling business or similar
organization” sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ‘Manajemen’ diartikan sebagai “Prose penggunaan
sumberdaya secara efektif untuk mencapai sasaran”(Kamus Besar Bahasa
Indonesia). Adapun dari segi Istilah telah banyak para ahli telah memberikan
pengertian manajemen, dengan formulasi yang berbeda-beda, berikut ini akan
dikemukakan beberapa pengertian manajemen guna memperoleh pemahaman yang lebih
jelas.
Tabel 1.1
Pendapat Pakar
tentang Manajemen
|
No
|
Pengertian manajemen
|
Pendapat
|
|
1.
|
The most comporehensive definition
views manajemen as an integrating process by which authorized individual
create, maintain, and operate an organization in the selection an
accomplishment of it’s aims
|
(Lester Robert Bittel (Ed), 1978 : 640)
|
|
2.
|
Manajemen itu adalah pengendalian dan
pemanfaatan daripada semua faktor dan sumberdaya, yang menurut suatu
perencanaan (planning), diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu
prapta atau tujuan kerja yang tertentu
|
(Prajudi Atmosudirdjo,1982 : 124)
|
|
3.
|
Manajemen is the use of people and
other resources to accomplish objective
|
( Boone& Kurtz. 1984 : 4)
|
|
4.
|
.. manajemen-the function of getting
things done through people
|
(Harold Koontz, Cyril O’Donnel:3)
|
|
5.
|
Manajemen merupakan sebuah proses
yang khas, yang terdiri dari tindsakan-tindakan : Perencanaan,
pengorganisasian, menggerakan, dan poengawasan, yang dilakukan untuk
menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui
pemanfaatan sumberdaya manusia serta sumber-sumber lain
|
(George R. Terry, 1986:4)
|
|
6.
|
Manajemen dapat didefinisikan sebagai
‘kemampuan atau ketrampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka
pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain’. Dengan demikian dapat
pula dikatakan bahwa manajemen merupakan alat pelaksana utama administrasi
|
(Sondang P. Siagian. 1997 : 5)
|
|
7.
|
Manajemen is the process of
efficiently achieving the objectives of the organization with and through
people
|
De Cenzo&Robbin
1999:5
|
Dengan
memperhatikan beberapa definisi di atas nampak jelas bahwa perbedaan formulasi
hanya dikarenakan titik tekan yang berbeda namun prinsip dasarnya sama, yakni
bahwa seluruh aktivitas yang dilakukan adalah dalam rangka mencapai suatu
tujuan dengan memanfaatkan seluruh sumberdaya yang ada, sementara itu definisi
nomor empat yang dikemukakan oleh G.R Terry menambahkan dengan proses
kegiatannya, sedangkan definisi nomor lima dari Sondang P Siagian menambah
penegasan tentang posisi manajemen hubungannya dengan administrasi. Terlepas
dari perbedaan tersebut, terdapat beberapa prinsip yang nampaknya menjadi
benang merah tentang pengertian manajemen yakni :
1. Manajemen merupakan suatu kegiatan
2. Manajemen menggunakan atau memanfaatkan pihak-pihak lain
3. Kegiatan manajemen diarahkan untuk mencapai suatu tujuan
tertentu
Setelah
melihat pengertian manajemen, maka nampak jelas bahwa setiap organisasi
termasuk organisasi pendidikan seperti Sekolah akan sangat memerlukan manajemen
untuk mengatur/mengelola kerjasama yang terjadi agar dapat berjalan dengan baik
dalam pencapaian tujuan, untuk itu pengelolaannya mesti berjalan secara
sistematis melalui tahapan-tahapan dengan diawali oleh suatu rencana sampai
tahapan berikutnya dengan menunjukan suatu keterpaduan dalam prosesnya, dengan
mengingat hal itu, maka makna pentingnya manajemen semakin jelas bagi kehidupan
manusia termasuk bidang pendidikan.
2. Konsep Manajemen Pendidikan
Setelah memperoleh gambaran tentang manajemen secara umum
maka pemahaman tentang manajemen pendidikan akan lebih mudah, karena dari segi
prinsip serta fungsi-fungsinya nampaknya tidak banyak berbeda, perbedaan akan
terlihat dalam substansi yang dijadikan objek kajiannya yakni segala sesuatu
yang berkaitan dengan masalah pendidikan.
Oteng Sutisna (1989:382) menyatakan bahwa
Administrasi pendidikan hadir dalam tiga bidang perhatian dan kepentingan yaitu
: (1) setting Administrasi pendidikan (geografi, demograpi, ekonomi, ideologi,
kebudayaan, dan pembangunan); (2) pendidikan (bidang garapan Administrasi); dan
(3) substansi administrasi pendidikan (tugas-tugasnya, prosesnya, asas-asasnya,
dan prilaku administrasi), hal ini makin memperkuat bahwa manajemen pendidikan
mempunyai bidang dengan cakupan luas yang saling berkaitan, sehingga pemahaman
tentangnya memerlukan wawasan yang luas serta antisipatif terhadap berbagai
perubahan yang terjadi di masyarakat disamping pendalaman dari segi
perkembangan teori dalam hal manajemen.
Dalam kaitannya dengan makna manajemen Pendidikan berikut
ini akan dikemukakan beberapa pengertian manajemen pendidikan yang dikemukakan
para ahli. Dalam hubungan ini penulis mengambil pendapat yang mempersamakan
antara Manajemen dan Administrasi terlepas dari kontroversi tentangnya,
sehingga dalam tulisan ini kedua istilah itu dapat dipertukarkan dengan makna
yang sama.
Tabel 2.1
Pendapat Pakar
tentang manajemen Pendidikan
|
No
|
Pengertian manajemen Pendidikan
|
Pendapat
|
|
1.
|
Administrasi pendidikan dapat
diartikan sebagai keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua
sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien…
|
Djam’an Satori, (1980: 4)
|
|
2.
|
Dalam pendidikan, manajemen itu dapat
diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat
dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya
|
Made Pidarta, (1988:4)
|
|
3.
|
Manajemen pendidikan ialah proses
perencanaan, peng-organisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan,
sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan, mencerdaskan
kehidupan bangsa, mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang
beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur,
memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian
yang mantap, mandiri, serta bertanggung jawab kemasyarakat dan kebangsaan
|
Biro Perencanaan Depdikbud, (1993:4)
|
|
4.
|
educational administration is a
social process that take place within the context of social system
|
Castetter. (1996:198)
|
|
5.
|
Manajemen pendidikan dapat
didefinisikan sebagi proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin,
mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan
pendidikan…
|
Soebagio Atmodiwirio. (2000:23)
|
|
6.
|
Manajemen pendidikan ialah suatu ilmu
yang mempelajari bagaimana menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan secara produktif dan bagaimana menciptakan suasana yang baik
bagi manusia yang turut serta di dalam mencapai tujuan yang disepakati
bersama
|
Engkoswara (2001:2)
|
dengan memperhatikan pengertian di atas nampak bahwa
manajemen pendidikan pada prinsipnya merupakan suatu bentuk penerapan manajemen
atau administrasi dalam mengelola, mengatur dan mengalokasikan sumber daya yang
terdapat dalam dunia pendidikan, fungsi administrasi pendidikan merupakan alat
untuk mengintegrasikan peranan seluruh sumberdaya guna tercapainya tujuan
pendidikan dalam suatu konteks sosial tertentu, ini berarti bahwa bidang-bidang
yang dikelola mempunyai kekhususan yang berbeda dari manajemen dalam bidang
lain.
Menurut Engkoswara (2001:2) wilayah kerja manajemen
pendidikan dapat digambarkan secara skematik sebagai berikut :
|
Perorangan
|
|
Garapan
Fungsi
|
SDM
|
SB
|
SFD
|
|
|
Perencanaan
|
|
|||
|
Pelaksanaan
|
||||
|
Pengawasan
|
||||
|
Kelembagaan
|
||||
Tabel 2.2 Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan
gambar di atas menunjukan suatu kombinasi antara fungsi
manajemen dengan bidang garapan yakni sumber Daya manusia (SDM), Sumber Belajar
(SB), dan Sumber Fasilitas dan Dana (SFD), sehingga tergambar apa yang sedang
dikerjakan dalam konteks manajemen pendidikan dalam upaya untuk mencapai Tujuan
Pendidikan secara Produktif (TPP) baik untuk perorangan maupun kelembagaan
Lembaga pendidikan seperti organisasi sekolah merupakan kerangka kelembagaan
dimana administrasi pendidikan dapat berperan dalam mengelola organisasi untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dilihat dari tingkatan-tingkatan suatu
organisasi dalam hal ini sekolah, administrasi pendidikan dapat dilihat dalam
tiga tingkatan yaitu tingkatan institusi (Institutional level),
tingkatan manajerial (managerial level), dan tingkatan teknis (technical
level) (Murphy dan Louis, 1999). Tingkatan institusi berkaitan dengan
hubungan antara lembaga pendidikan (sekolah) dengan lingkungan eksternal,
tingkatan manajerial berkaitan dengan kepemimpinan, dan organisasi lembaga
(sekolah), dan tingkatan teknis berkaitan dengan proses pembelajaran. Dengan
demikian manajemen pendidikan dalam konteks kelembagaan pendidikan mempunyai
cakupan yang luas, disamping itu bidang-bidang yang harus ditanganinya juga
cukup banyak dan kompleks dari mulai sumberdaya fisik, keuangan, dan manusia
yang terlibat dalam kegiatan proses pendidikan di sekolah
Menurut Consortium on Renewing Education (Murphy
dan Louis, ed. 1999:515) Sekolah (lembaga pendidikan) mempunyai lima bentuk
modal yang perlu dikelola untuk keberhasilan pendidikan yaitu :
1. Integrative
capital (modal integrative)
2. Human
capital (modal manusia)
3. Financial
capital (modal keuangan)
4. Social
capital (modal social)
5. Political
capital (modal politik)
Modal integratif adalah modal
yang berkaitan dengan pengintegrasian empat modal lainnya untuk dapat
dimanfaatkan bagi pencapaian program/tujuan pendidikan. Modal manusia adalah sumberdaya manusia yang kemampuan untuk
menggunakan pengetahuan bagi kepentingan proses pendidikan/pembelajaran. Modal keuangan adalah dana yang diperlukan untuk menjalankan dan
memperbaiki proses pendidikan. Modal sosial adalah ikatan
kepercayaan dan kebiasaan yang menggambarkan sekolah sebagai komunitas. Modal politik adalah dasar otoritas legal yang dimiliki untuk
melakukan proses pendidikan/pembelajaran.
Dengan pemahaman sebagaimana dikemukakan di atas, nampak
bahwa salah satu fungsi penting dari manajemen pendidikan adalah berkaitan
dengan proses pembelajaran, hal ini mencakup dari mulai aspek persiapan sampai
dengan evaluasi untuk melihat kualitas dari suatu proses tersebut, dalam
hubungan ini Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan yang melakukan
kegiatan/proses pembelajaran jelas perlu mengelola kegiatan tersebut dengan
baik karena proses belajar mengajar ini merupakan kegiatan utama dari suatu
sekolah (Hoy dan Miskel 2001). Dengan demikian nampak bahwa Guru sebagai tenaga
pendidik merupakan faktor penting dalam manajemen pendidikan, sebab inti dari
proses pendidikan di sekolah pada dasarnya adalah guru, karena keterlibatannya
yang langsung pada kegiatan pembelajaran di kelas. Oleh karena itu Manajemen
Sumber Daya Manusia Pendidik dalam suatu lembaga pendidikan akan menentukan
bagaimana kontribusinya bagi pencapaian tujuan, dan kinerja guru merupakan
sesuatu yang harus mendapat perhatian dari fihak manajemen pendidikan di
sekolah agar dapat terus berkembang dan meningkat kompetensinya dan dengan
peningkatan tersebut kinerja merekapun akan meningkat, sehingga akan memberikan
berpengaruh pada peningkatan kualitas pendidikan sejalan dengan tuntutan
perkembangan global dewasa ini.
3. Perkembangan Manajemen Pendidikan
(1)
Teori Manajemen Kuno;
Sampai
dengan tingkat tertentu, manajemen telah dipraktekkan oleh masyarakat kuno.
Sebagai contoh, bangsa Mesir bisa membuat piramida. Bangunan yang cukup
kompleks yang hanya bisa diselesaikan dengan koordinasi yang baik. Kekaisaran
Romawi mengembangkan struktur organisasi yang jelas, dan sangat membantu
komunikasi dan pengendalian.
Meskipun
manajemen telah dipraktekkan dan dibicarakan di jaman kuno, tetapi kejadian
semacam itu relatif sporadis, dan tidak ada upaya yang sistematis untuk
mempelajari manajemen. Karena itu manajemen selama beberapa abad kemudian
“terlupakan”.
Pada
akhir abad 19-an, perkembangan baru membutuhkan studi manajemen yang lebih
serius. Pada waktu industrialisasi berkembang pesat, dan perusahaan-perusahaan
berkembang menjadi perusahaan raksasa.
(2)
Teori Manajemen Klasik;
a)
Teori Manajemen Klasik
·
Robert Owen (1771-1858)
Owen
berkesimpulan bahwa manajer harus menjadi pembaharu (reformer). Beliau melihat
peranan pekerja sebagai yang cukup penting sebagai aset perusahaan. Pekerja
bukan saja merupakan input, tetapi merupakan sumber daya perusahaan yang
signifikan. Ia juga memperbaiki kondisi pekerjanya, dengan mendirikan perumahan
(tempat tinggal) yang lebih baik. Beliau juga mendirikan toko, yang mana
pekerjanya tidak kesusahan dan dapat membeli kebutuhan dengan harga murah. Ia
juga mengurangi jam kerja dari 15 jam menjadi 10,5 jam, dan menolah pekerja
dibawah umur 10 tahun.
Owen
berpendapat dengan memperbaiki kondisi kerja atau invertasi pada sumber daya
manusia, perusahaan dapat meningkatkan output dan juga keuntungan. Disamping
itu Owen juga memperkenalkan sistem penilaian terbuka dan dilakukan setiap
hari. Dengan cara seperti itu manajer diharapkan bisa melokalisir masalah yang
ada dengan cepat.
·
Charles Babbage (1792-1871)
Babbage
merupakan profesor matematika di Inggris. Dengan metode kuantitatifnya beliau
percaya:
1.
Bahwa prinsip-prinsip ilmiah dapat
diterapkan untuk meningkatkan efisiensi produksi, produksi naik biaya operasi
turun.
2.
Pembagian Kerja (division of labor);
dengan ini kerja/operasi pabriknya bisa dianalisis secara terpisah. Dengan cara
semacam ini pula training bisa dilakukan dengan lebih mudah.
3.
Dengan melakukan pekerjaan yang sama
secara berulang-ulang, maka pekerja akan semakin terampil dan berarti semakin
efisien.
b)
Teori Manajemen Ilmiah
·
Federick Winslow Taylor (1856-1915)
Federick
Taylor disebut sebagai bapak manajemen ilmiah. Taylor memfokuskan perhatiannya
pada studi waktu untuk setiap pekerjaan (time and motion study); dari sini ia
mengembangkan analisis kerja. Taylor kemudian memperkenalkan sistem pembayaran
differential (differential rate).
Manajemen
Taylor didasarkan pada langkah atau prinsip sebagai berikut :
1.
Mengambangkan Ilmu untuk setiap
elemen pekerjaan, untuk menggantikan pikiran yang didasari tanpa ilmu.
2.
Memilih karyawan secara ilmiah, dan
melatih mereka untuk melakukan pekerjaan seperti yang ditentukan pada
langkah-1.
3.
Mengawasi karyawan secara ilmiah,
untuk memastikan mereka mengikuti metode yang telah ditentukan.
4.
Kerjasama antara manajemen dengan
pekerja ditingkatkan. Persahabatan antara keduanya juga ditingkatkan
·
Frank B. Gilberth (1868-1924) dan
Lillian Gilberth (1887-1972)
Keduanya
adalah suami istri yang mempunyai minat yangsama terhadap manajemen. Menurut
Frank pergerakan yang dapat dihilangkan akan mengurangi kelelahan. Semangat
kerja akan naik karena bermanfaat secara fisik pada karyawan. Sedang Lilian
memberikan kontribusi pada lapangan psikologi industri dan manajemen
personalia. Beliau percaya bahwa tujuan akhir manajemen ilmiah adalah membantu
pekerja mencapai potensi penuhnya sebagai seorang manusia. Keduanya
mengembangkan rencana promosi tiga tahap, yaitu :
1.
Menyiapkan Promosi
2.
Melatih Calon Pengganti
3.
Melakukan Pekerjaan
Menurut
metode tersebut, seorang pekerja akan bekerja seperti biasa, sambil menyiapkan
promosi karir, dan melatih calon penggantinya. Dengan demikian pekerja akan
menjadi pelaksana, pelajar yaitu menyiapkan karir yang lebih tinggi, dan
pengajar dalam arti mengajari dalon pengganti.
·
Henry L. Gantt (1861-1919)
Gantt
melakukan perbaikan metode sistem penggajian Taylor (differential system)
karena menurutnya metode tersebut kurang memotivasi kerja. Sistem Pengawasan
(supervisor) diterapkannya sebagai upaya untuk memacu semangat kerja karyawan.
Disamping itu Gantt juga memperkenalkan sistem penilaian terbuka yang awalnya
merupakan ide Owen. Gantt chart (bagan Gantt) kemudian populer dan gigunakan
untuk perencanaan, yaitu mencatat scedul (jadwal) pekerja tertentu.
c)
Teori Manajemen Organisasi
·
Henry Fayol (1841-1925)
Henry
Fayol merupakan industrialis Prancis, ia sering disebut sebagai bapak aliran
manajemen klasik karena upaya “mensistematisir” studi manajerial. Menurut
Fayol, praktek manajemen dapat dikelompokkan ke dalam beberapa pola yang dapat
diidentifikasi dan dianalisis. Dan selanjutnya analisis tersebut dapat dipelajari
oleh manajer lain atau calon manajer.
Fayol
adalah orang yang pertama mengelompokkan kegiatan menajerial dalam 4 fungsi
manajemen, yaitu : (1) Perencanaan, (2) Pengorganisasian, (3) Pengarahan, dan
(4) Pengendalian. Fayol percaya bahwa manajer bukan dilahirkan tetapi
diajarkan. Manajemen bisa dipelajari dan dipraktekkan secara efektif apabila
prinsip-prinsip dasarnya dipahami.
·
Max Weber (1864-1920)
Max
Weber adalah seorang ahli sosiologi Jerman yang mengembangkan teori birokrasi.
Menurutnya, suatu organisasi yang terdiri dari ribuan anggota membutuhkan
aturan jelas untuk anggota organisasi tersebut. Organisasi yang ideal adalah
birokrasi dimana aktivitas dan tujuan diturunkan secara rasional dan pembagian
kerja disebut dengan jelas. Birokrasi didasarkan pada aturan yang rasional yang
dapat dipakai untuk mendesain struktur organisasi yang jelas.
Konsep
birokrasi Weber berlainan dengan pengertian birokrasi populer, dimana orang
cnderung mengartikan kata birokrasi dengan konotasi negatif, yaitu organisasi
yang lamban, tidak reponsif terhadap perubahan.
·
Mary Parker Follet (1868-1933)
Mary
Parker Follet agak berbeda sedikit dengan pendahulunya karena memasukkan elemen
manusia dan struktur organisasi kedalam analisisnya. Elemen tersebut kemudian
muncul dalam teori perilaku dan hubungan manusia. Follet percaya bahwa
seseorang akan menjadi manusia sepenuhnya apabila manusia menjadi anggota suatu
kelompok. Konsekuensinya, Follet percaya bahwa manajemen dan pekerja mempunyai
kepentingan yang sama, karena menjadi anggota organisasi yang sama.
Selanjutnya
Follet mengembangkan model perilaku pengendalian organisasi dimana seseorang
dikendalikan oleh tiga hal, yaitu :
1.
Pengendalian diri (dari orang
tersebut);
2.
Pengendalian kelompok (dari
kelompok);
3.
Pengendalian bersama (dari orang
tersebut dan dari kelompok).
·
Chester I Barnard (1886-1961)
Bernard
mengambangkan teori organisasi, menurutnya orang yang datang keorganisasi
formal (seperti perusahaan) karena ingin mencapai tujuan yang tidak dapat
dicapai sendiri. Pada waktu mereka berusaha mencapai tujuan organisasi, mereka
juga akan berusaha mencapai tujuannya sendiri. Organisasi bisa berjalan dengan
efektif apabila keseimbangan tujuan organisasi dengan tujuan anggotanya dapat
terjaga.
Bernard
percaya bahwa keseimbangan antara tujuan organisasi dengan individu dapat
dijaga apabila manajer mengerti konsep wilayah penerimaan (zone of acceptance),
dimana pekerja akan menerima instruksi atasannya tanpa mempertanyakan otoritas
manajemen.
(3)
Teori Manajemen Kontemporer.
Beberapa
pendekatan sudah dibicarakan dimuka, dimana pendekatan-pendekatan tersebut
mengalami perkembangan. Ada beberapa perkembangan yang cenderung
mengintegrasikan pendekatan-pendekatan sebelumnya, menjadikan batas-batas
pendekatan yang telah dibicarakan menjadi tidak jelas. Namun demikian ada
pendekatan yang tetap berakar pada pendekatan-pendekatan tertentu. Bagian
berikut ini akan membicarakan pendekatan baru dalam manajemen :
1)
Pendekatan Sistem
Sistem
dapat diartikan sebagai gabungan sub-sub sistem yang saling berkaitan.
Organisasi sebagai suatu sistem akan dipandang secara keseluruhan, terdiri dari
bagian-bagian yang berkaitan (sub-sistem), dan sistem/organisasi tersebut akan
berinteraksi dengan lingkungan.
Model
pendekatan sistem dapat digambarkan sebagai berikut[10] :

Pada
proses selanjutnya pendekatan inilah yang selama ini digunakan dalam sistem
manajemen pendidikan di indonesia. Sebelum munculnya sistem
pendekatan-pendekatan yang baru.
2)
Pendekatan Situasional (Contingency)
Pendekatan
ini menganggap bahwa efektivitas manajemen tergantung pada situasi yang
melatarbelakanginya. Prinsip manajemen yang sukses pada situasi tertentu, belum
tentu efektif apabila digunakan di situasi lainnya. Tugas manajer adalah
mencari teknik yang paling baik untuk mencapai tujuan organisasi, dengan
melihat situasi, kondisi, dan waktu yang tertentu.
Pendekatan
situasional memberikan “resep praktis” terhadap persoalan manajemen. Tidak
mengherankan jika pendekatan ini dikembangkan manajer, konsultan, atau peneliti
yang banyak berkecimpung dengan dunia nyata. Pendekatan ini menyadarkan manajer
bahwa kompleksitas situasi manajerial, membuat manajer fleksibel atau sensitif
dalam memilih teknik-teknik manajemen yang terbaik berdasarkan situasi yang
ada.
Namun
pendekatan ini dalam perkembangannya dikritik karena tidak menawarkan sesuatu
yang baru. Pendekatan ini juga belum dapat dikatakan sebagai aliran atau
disiplin manajemen baru, yang mempunyai batas-batas yang jelas.
3)
Pendekatan Hubungan Manusia Baru (Neo-Human Relation)
Pendekatan
ini berusaha mengintegrasikan sis positif manusia dan manajemen ilmiah.
Pendekatan ini melihat bahwa manusia merupakan makhluk yang emosional,
intuitif, dan kreatif. Dengan memahami kedudukan manusia tersebut, prinsip
manajemen dapat dikembangkan lebih lanjut. Tokoh yang dapat disebut mewakili
aliran ini adalah W. Edwadr Deming, yang mengembangkan prinsip-prinsip
manajemen seperti Fayol yang berfokus pada kualitas kerja dan hubungan antar
karyawan.
Dalam
perjalanannya pendekatan ini masih membutuhkan waktu untuk sampai dikatakan
sebagai aliran manajemen baru. Meskipun demikian pendekatan tersebut cukup
populer baik dilingkungan akademis maupun praktis. Ide-ide pendekatan tersebut
banyak mempengaruhi praktek manajemen saat ini.
4.
STUDI KASUS DI INDONESIA
a.
Penerapan Manajemen Pendidikan di
Indonesia
Ada
dua hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan dunia pendidikan, yakni (1)
evaluasi pendidikan, dan (2) pemikiran untuk memfungsikan pendidikan di
Indonesia. Dari dua hal ini ketika kita tarik kedalam menejemen pendidikan yang
berjalan di Indonesia, ada beberapa fenomena menarik yang sangat menonjol
dewasa ini, diantaranya ialah : a) pendidikan kita tidak mendewasakan anak
didik, b) pendidikan kita telah kehilangan objektivitasnya, c) pendidikan kita
tidak menumbuhkan pola berfikir, d) pendidikan kita tidak menghasilkan manusia
terdidik, e) pendidikan kita dirasa membelenggu, f) pendidikan kita belum mampu
membangun individu belajar, g) pendidikan kita dirasa linier-indroktinatif, h)
pendidikan kita belum mampu menghasilkan kemandirian, dan i) pendidikan kita
belum mampu memberdayakan dan membudayakan peserta didik.
Fenomena
tersebut di atas, itu semua adalah tentang evaluasi dari pendidikan kita yang
ada sekarang ini. Sedangkan pemikiran untuk memfungsikan pendidikan di
Indonesia dirasa selain merupakan tuntutan kebutuhan di atas, juga dibutuhkan
adanya (1) “peace education” pendidikan yang damai / menyejukkan; (2)
pendidikan yang mampu membangun kehidupan demokratik; (3) pendidikan yang mampu
menumbuhkan semangat menjunjung tinggi HAM, dan (4) pendidikan yang mampu
membangun keutuhan pribadi manusia berbudaya.
Dari
persoalan tersebut diatas, jelas bahwa dunia pendidikan kita masih jauh dari
nilai-nilai yang ingin dicapai. Apa yang salah dari ini semua? Sebuah
pertanyaan yang mungkin akan kita jawab bersama sebagai manusia yang peduli
terhadap dunia pendidikan. Kalau kita cermati lebih jauh, apa yang telah
diperbuat oleh lembaga pendidikan dewasa ini - yang telah dengan susah payah
menerapkan berbagai teori manajemen pendidikan yang cocok untuk mencapai tujuan
pendidikan yang diharapkan – masih jauh dari harapan yang sebenarnya.
Kebijakan
mulai dari CBSA (cara belajar siswa aktif) sampai sekarang yang
didengung-dengungkan dengan KBK (kurikulum berbasis kompetensi) adalah berbagai
upaya dunia pendidikan kita untuk mencerdaskan anak didiknya sesuai dengan
perkembangan zaman. Muncul lagi MBS (manajemen berbasis sekolah) adalah sebuah
alternatif pemecahan yang menginginkan pengelolaan pendidikan yang dibebankan
kepada sekolah, sehingga apa yang diinginkan suatu daerah (lembaga pendidikan)
terhadap potensi anak didiknya bisa tersalurkan dengan baik. Ini adalah sedikit
tentang bagaimana sebenarnya penerapan pendidikan di Indonesia, dn masih banyak
lagi model-model yang diterapkan.
Kalau
kita lihat bagaimana sebuah lembaga pendidikan menerapkan apa yang telah ada
dalam teori manajemen pendidikan, maka mungkin apa yang terjadi di atas minimal
dapat terhindarkan. Lagi-lagi itu semua karena kebijakan pendidikan kita selama
ini masih sangat semrawut. Sehingga hasil yang diharapkan dari
komponen-komponen penyelenggara pendidikan antara satu komponen dengan komponen
yang lain masih sangat jauh berbeda bahkan ada yang bertentangan.
b.
Beberapa Masalah Manajemen di
Indonesia
Sejak
zaman orde lama, orde baru sampai sekarang zaman reformasi, sistem pendidikan
Nasional kita masih belum mempunyai perubahan yang signifikan. Persoalan
pendidikan di Indonesia dewasa ini sangat kompleks. Permasalahan yang besar
antara lain menyangkut persoalan mutu pendidikan, pemerataan pendidikan, dan
manajemen pendidikan. Mengenai mutu pendidikan menurut Paul Suparno adalah
masalah mengenai kurikulum, proses pembelajaran, evaluasi, buku ajar, mutu
guru, sarana dan prasarana. Termasuk pemerataan pendidikan adalah masih
banyaknya anak umur sekolah yang tidak dapat menikmati pendidikan formal di
sekolah. Sedang persoalan manajemen pendidikan adalah menyangkut segala macam
pengaturan pendidikan seperti otonomi pendidikan, birokrasi, dan transparansi
agar kualitas dam pemerataan pendidikan dapat terselesaikan.[11]
Inilah
persoalan yang besar sebenarnya, karena bagaimanapun juga ketika sebuah
intitusi pendidikan tidak mempunyai sistim manajemen pendidikan yang baik, maka
dapat dipastikan mutu pendidikannya pun bisa jadi tidak baik pula. Sebagaimana
yang dirasakan dalam sistem manajemen pendidikan kita dewasa ini, dengan
munculnya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dimungkinkan akan sedikit menjawab
persoalan tersebut.
Di
atas juga sudah diterangkan tentang manajemen secara umum yang itu diterapkan
dalan manajemen pendidikan kita. Seperti halnya sistem manajemen yang ditemukan
oleh tokoh-tokoh manajemen, yaitu (POAC) Planning, Organizing, Actuating, dan
Controling. Adalah sistem manajemen yang sangat luar biasa ketika itu
dilakasanakan dengan sempurna.
Sistem
Manajemen Pendidikan yang terjadi di Indonesia sejak zaman orde baru (yang
masih menggunakan manajemen pendidikan sentralistik) sampai kemudian muncul
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang sudah cenderung kepada otomisasi
lembaga-lembaga pendidikan (desentralisasi pendidikan), mempunyai arti yang
sangat luas. Disamping mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Persoalan inilah yang akan kita bahas selanjutnya.
c.
Analisis
Sejak
zaman Orde Baru telah banyak yang di capai dalam pembangunan nasional termasuk
bidang pendidikan. Kemajuan ini juga mendapat pengakuan dari seluruh dunia
dengan diberikannya penghargaan Avisiena kepada Presiden Republik Indonesia
karena keberhasilan melaksanakan wajib belajar sekolah dasar. Namun
ditengah-tengah kesuksesan yang telah dicapai tersebut masih banyak
permasalahan yang perlu diselesaikan, seperti halnya pengangguran tenaga-tenaga
terdidik hasil dari sistem pendidikan kita. Disatu pihak pendidikan kita telah
melahirkan lulusan pendidikan tinggi dan menengah tetapi dilain pihak menambah
pengangguran.[12]
Sebagaimana
dijelaskan oleh H.A.R Tilaar, bahwa di dalam sistem pendidikan
sekurang-kurangnya berisi faktor-faktor biaya, pengelola, institusi, dan sistem
manajemennya.[13] Sistem manajemen pendidikan kita (era orde lama dan orde
baru) masih terlalu sentralistik (pemerintah pusat), sebagaimana kita tahu
bahwa suatu sistem yang sentralistik dan birokratik, maka ruang-gerak untuk
inovasi sangat terbatas. Demikian pula kreativitas dari para pendidiknya boleh
dikatakan menjadi hilang karena segala sesuatu telah ditentukan menurut
garis-garis yang ditentukan. Sehingga apa yang diinginkan daerah (lembaga
pendidikan) tidak tercapai karena sifat yang sentralistik tersebut. Hasilnya
adalah jumlah out-put banyak namun itu menambah pengangguran yang banyak pula.
Pada
era reformasi mulai muncul Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) seiring dengan
bergulirnya otonomi daerah (pelimpahan wewenang pemerintah pusat pada
pemerintah daerah). Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam bahasa
Inggris disebut ”School Based Management” merupakan strategi yang jitu untuk
mencapai manajemen sekolah yang efektif dan efisien. Konsep ini pertama kali
muncul di Amerika Serikat, latar belakangnya adalah ketika itu masyarakat
mempertanyakan apa yang dapat diberikan sekolah kepada masyarakat dan juga apa
relevansi dan korelasi pendidikan dengan tuntutan maupun kebutuhan
masyarakat.[14]
Model
MBS ini adalah suatu ide dimana kekuasaan pengambilan keputusan yang berkaitan
dengan pendidikan diletakkan pada tempat yang paling dekat dengan proses
belajar mengajar, yakni sekolah. Konsep ini didasarkan pada “Self Determination
Theory” yang menyatakan bahwa apabila seseorang atau kelompok memiliki kekuasaan
untuk mengambil keputusan sendiri, maka orang atau kelompok tersebut akan
memiliki tanggung jawab yang besar untuk melaksanakan apa yang telah diputuskan
tersebut.[15] Dalam pelaksanaan MBS tersirat adanya tugas sekolah untuk
meningkatkan mutu pendidikan menggunakan strategi yang lebih memberdayakan
semua potensi sekolah secara optimal.
Sisi
kelebihan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dibandingkan dengan model
sentralistik adalah sekolah memiliki kekuasaan, antara lain : (1) mengambil
keputusan berkaitan dengan pengelolaan kurikulum; (2) keputusan berkaitan
dengan rekruitmen dan pengelolaan guru dan pegawai administrasi; (3) keputusan
berkaitan dengan pengelolaan sekolah. Dengan demikian dapat dilihat sekaligus
ditegaskan bahwa model MBS ini pada hakekatnya adalah memberikan otonomi yang
lebih luas kepada sekolah, dengan tujuan akhir meningkatkan mutu hasil
penyelenggaraan pendidikan melalui peningkatan kinerja dan partisipasi semua
stakeholdernya.
Demikian
pula yang disampaikan Mulyasa bahwa kewenangan yang bertumpu pada sekolah
merupakan inti dari MBS yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi
serta memberikan beberapa keuntungan berikut : (1) Kebijaksanaan dan kewenangan
sekolah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik, orang tua, dan guru; (2)
Bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal; dan (3) Efektif dalam
melakukan pembinaan peserta didik seperti kehadiran, hasil belajar, tingkat
pengulangan, tingkat putus sekolah, moral guru, dan iklim sekolah.[16]
Disamping
itu dalam sebuah sekolah, tanggung jawab pokok untuk pembentukan moral dan
intelektual akhirnya tidak terletak pada salah satu prosedur atau kegiatan baik
intra-kurikuler maupun ekstra-kurikuler; akan tetapi terletak pada pengajarnya.
Sekolah merupakan kebersamaan bersemuka, tempat hubungan personel otentik
antara pengajar dan pelajar dapat berkembang. Tanpa persahabatan ragam itu
banyak kekuatan dari pendidikan dan pengajaran akan menghilang. Hubungan saling
percaya dan persahabatan otentik antara pengajar dan pelajar merupakan syarat
mutlak pertumbuhan sejati dari komitmen kepada nilai-nilai. Proses itu semua
akan terwujud ketika berada dalam ruang lingkup manajemen yang baik, dan ini
menurut J. Drost, SJ akan terwujud dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)[17].