Kamis, 27 Februari 2014

Kedaulatan Pangan Untuk Kemandirian Bangsa Indonesia
LKIM persiapka diri ke PIMNAS

HEREDITAS



BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Hereditas adalah suatu proses penurunan sifat-sifat dari induk keketurunannya melalui gen dan bukan dalam bentuk tingkah laku melainkan struktur tubuh. Hereditas sangat penting dalam pembelajaran Ilmu pemulian ternak, karna hereditas membahas tentang sifat-sifat yang diturunkan induk pada anaknya. Sifat-sifat yang diturunkan tersebut bisa sifat yang unggul atau bagusnya, tetapi juga sifat-sifat yang tidak menguntungkan peternak.
Sebagai contoh di silangkan sapi pesisir asli sumatera barat dengan sapi simental (dimana sapi ini bobot hidupnya bias mencapai 1 ton). Secara teori bila induknya sapi pesisir meberima IB dari sapi simental maka berat anak yang d hasilkan setengah dari jumlah kedua induknya. Dimana dapat di jelaskan dengan cara seperti ini.
Induk betina sapi pesisir beratnya 300 kg
Induk jantan sapi simental beratnya 860 kg
                     
Jadi, pertambahan bobot badan sapi berambah 250 kg.
B.     Tujuan
·         Pelengkap tugas mata kuliah Ilmu Pemuliaan Ternak
·         sebagai bahan untuk ujian tengah semester (UTS)









BAB II
A.    Pengertian Hereditas
Hereditas adalah suatu proses penurunan sifat-sifat dari induk keketurunannya melalui gen dan bukan dalam bentuk tingkah laku melainkan struktur tubuh. Pendapat ini dicetuskan oleh Witherington. Secara umum hereditas diartikan sebagai pewarisan sifat dari induk ke keturunannya baik secara biologis melalui gen (DNA) atau secara sosial melalui pewarisan gelar, atau status sosial. Pewarisan sifat ini biasanya berhubungan dengan struktur tubuh dan bukan tingkah laku. Karena tingkah laku makhluk hidup lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Hereditas adalah sebuah konsep yang telah berkembang sejak zaman filsuf Yunani kuno. Dari Theophrastus, Hiprokrates, Aristoteles hingga Aeskhylus. Hiprokrates menduga bahwa "benih/sifat" diproduksi oleh berbagai anggota tubuh dan di wariskan pada saat pembuahan. Sedang Aristoteles menduga bahwa semen pejantan dan betina becampur pada saat pembuahan. Konsep tentang hereditas yang lebih ekstrim lagi adalah teori Pangenesis yang mempercayai bahwa pewarisan sifat berhubungan erat dengan hubungan darah. Karena itu muncul istilah darah murni, darah turunan, dan darah bangsawan. Teori Pangenesis kemudian di patahkan oleh Francis Galton, sepupu dari Charles Darwin melalui sebuah percobaan.

B.     Interaksi Hereditas
Hereditas pada individu merupakan bawaan sejak lahir. Bawaan/warisan atau hereditas tersebut berasal dari kedua orang tuanya (Genes) dan tidak dapat direkayasa. Bawaan memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Ia lahir membawa berbagai ragam warisan yang berasal dari kedua ibu-bapak atau kakek-nenek.
Warisan atau turunan tersebut yang terpenting, antara lain: bentuk tubuh, raut muka, warna kulit, intelegensi, bakat, sifat-sifat, dan penyakit.
1.      Bentuk Tubuh dan Warna Kulit
Salah satu warisan yang dibawa oleh anak sejak lahir adalah mengenai bentuk tubuh dan warna kulit. Misalnya ada anak yang memiliki bentuk tubuh gemuk seperti ibunya, wajah seperti bapaknya, warna kulit putih seperti ibunya.

2.      Sifat-Sifat
Sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang adalah salah satu aspek yang diwarisi dari ibu, ayah, atau kakek dan nenek. Bermacam-macam sifat yang dimiliki manusia, misalnya: Penyabar, pemarah, kikir, pemboros, hemat dan lain sebagainya.
Sifat-sifat tersebut dibawa manusia sejak lahir. Ada yang dapat dilihat atau diketahui ketika kecil dan ada pula yang diketahui sesudah ia besar.
Sifat atau tabiat berbeda dengan kebiasaan. Sifat sangat sukar diubah, sedangkan kebiasaan dapat diubah setiap saat bila dikehendaki dengan sungguh-sungguh.
3.       Intelegensi
Istilah intelegensi berasal dari kata Latin intelligence yang berarti menghubungankan atau menyatukan satu sama lain(¬to organize, to relate, to bind together) (Walgoti,1997).
Intelegensi menurut David Wechler (1958) didefinisikan sebagai keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.
Intelegensi adalah kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah. Kemampuan yang bersifat umum tersebut meliputi berbagai jenis kemampuan psikis seperti: abstrak, berpikir mekanis, matematis, memahami, mengingat, berbahasa dan sebagainya.
Intelegensi seseorang dapat diketahui secara lebih tepat dengan menggunakan tes intelegensi. Ukuran intelegensi dinyatakan dalam IQ (Intelligence Quotient).

4.       Bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol di antara berbagai jenis kemampuan yang dimiliki seseorang. Kemampuan khusus itu biasanya berbentuk keterampilan atau suatu bidang ilmu, misalnya kemampuan khusus (bakat) dalam bidang seni musik, seni suara, olahraga, matematika, bahasa, ekonomi, teknik, keguruan, social, agama, dan sebagainya. Seseorang umumnya memiliki bakat tertentu yang terdiri dari satu atau lebih kemampuan khusus yang menonjol dari bidang lainnya. Tetapi ada juga yang tidak memiliki bakat sama sekali, artinya dalam semua bidang ilmu dan keterampilan dia lemah atau sedang. Ada pula sebagian orang memiliki bakat serba ada, artinya hampir semua bidang ilmu dan keterampilan, dia mampu dan menonjol. Orang seperti itu tergolong istimewa dan sanggup hidup di mana saja.
Bakat sebagaimana halnya dengan intelegensi merupakan warisan dari orang tua, nenek, kakek dari pihak ibu dan bapak. Warisan dapat dipupuk dan dikembangkan denganbermacam cara terutama dengan pelatihan dan didukung dana yang memadai. Seseorang yang memiliki bakat tertentu sejak kecilnya, namun tidak memperoleh kesempatan untuk mengembangkannya sebab tidak memiliki dana untuk latihan, maka bakatnya tidak dapat berkembang. Hal seperti ini dikatakan bakat terpendam.
Pada umumnya anak-anak mempunyai bakat dapat diketahui orang tuanya dengan memperhatikan tingkah laku dan kegiatannya sejak dari kecil. Biasanya anak memiliki bakat dalam suatu bidang, dia akan gemar sekali melakukan atau membicarakan bidang tersebut.





5.       Penyakit
Beberapa penyakit bisa berasal dari turunan, seperti penyakit kebutaan, syraf, dan luka sulit kering (darah keluar terus, hemopili).
Penyakit yang dibawa sejak lahir akan terus mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak.

C.    Pola-pola hereditas
1. Reproduksi Sel
a. Reproduksi pada Tingkat Sel
Pembelahan sel terjadi karena dua proses utama, yaitu pembelahan inti (kariokinesis) dan pembelahan sitoplasma (sitokinesis).

1) Amitosis
Pembelahan langsung suatu sel.
amitosis.jpg

2) Mitosis
Tujuan pembelahan mitosis: membantu sel dalam memelihara ukuran, terjadi keseimbangan jumlah DNA dan RNA, untuk pertumbuhan dan perkembangan organ dan tubuh organisme, untuk mengganti sel yang rusak atau mati.
siklus sel.jpg
Siklus sel

mitosis
mitosis.jpg


3) Meiosis
Pembelahan sel yang menghasilkan sel anak dengan jumlah kromosom setengah dari sel induknya.
meosis.jpg

                        b. Gametogenesis pada Hewan dan Manusia
1) Spermatogenesis
2) Oogenesis
spermatogenesis.jpg

            2. Hukum Mendel
Hukum 1 Mendel mengungkapkan bahwa dua alel yang mengatur sifat tertentu akan terpisah pada dua gamet yang berbeda.
hukum mendel 1.jpg
Hukum II Mendel mengungkapkan bahwa setiap pasang alel terpisah secara bebas pada setiap gamet.
a. Hibridisasi
1) Monohibrid
Persilangan yang hanya menggunakan satu macam gen yang berbeda atau menggunakan satu sifat beda.
2) Dihibrid
Persilangan yang menggunakan dua sifat beda atau dua pasang kromosom yang berbeda.
3) Polihibrid
Persilangan tiga atau lebih sifat beda.




3. Penyimpangan Semu Hukum Mendel
a. Komplementer
            Bentuk interaksi gen yang saling melengkapi.

b. Polimeri
Dua gen atau lebih yang menempati lokus berbeda, tetapi memiliki sifat yang sama.

c. Epistasis dan Hipostasis
Salah satu bentuk interaksi antar gen dominant yang mengalahkan gen dominant lainnya

1) Epistasis Dominan
Adanya satu gen dominan yang bersifat epistasis.

2) Epistasis Resesif
Terdapat gen resesif yang bersifat epistasis.


d. Kriptomeri
Suatu sifat yang tersembunyi pada induk dank an muncul pada anaknya atau keturunannya.


4. Intermediet
            Gen yang tidak dominan dan tidak resesif.


5. Gen Berpautan
            Gen-gen yang terletak pada kromosom yang sama.


6. Pindah Silang
Proses pertukaran gen antara kromatid-kromatid yang bukan pasangan duplikasi pada sepasang kromosom homolog.
pindah silang.jpg



7. Gen Terpaut Seks
            Gen yang terletak pada gonosom atau kromosom seks.
a. Cacat dan Penyakit Menurun yang Terpaut Kromosom Seks.
1) Hemofilia
Penyakit keturunan yang mengakibatkan darah seseorang sukar membeku.. Penyakit ini dikendalikan oleh gen resesif (h) yang terpaut kromosom X.
hemofilia.jpg



2) Buta warna
Penyakit keturunan yang disebabkan oleh gen resesif cb. Gen buta warna terpaut pada kromosom seks X.

3)  Hypertrichosis
Penyakit turunan berupa turunnya rambut di bagian tertentu daun telinga.Gen penyakit ini terpau kromosom Y.

a. Cacat dan Penyakit Menurun yang Tidak Terpaut Kromosom Seks.
1) Albino
Kelainan yang terjadi pada warna kulit dan organ tubuh lainnya. Gen albino dikendalikan oleh gen resesif a.

                                    2) Polidaktill
Memiliki jumlah jari tangan dan kaki lebih banyak dari orang normal. Gen polidaktill dikendalikan oleh gen dominan P.

3) Diabetes Melitus
                        Kelainan pada tubuh sehingga glukosa terbuang bersama urine.

4) Thalasemia
Kelainan genetic yang disebabkan oleh rendahnya kemampuan pembentukan hemoglobin karena terjadi gangguan pada salah satu rantai globin.


8. Penentuan Jenis Kelamin
a. Sistem Kromosom Kelamin XY
b. Sistem Kromosom Kelamin XO
c. Sistem Kromosom Kelamin ZW

9. Gen Letal
a. Gen letal resesif
            Gen yang dalam keadaan genotype homozigot resesif menyebabkan kematian.
b. Gen letal dominant
            Gen yang dalam keadaan genotype homozigot dominan menyebabkan kematian.

BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw BAB II ANATOMI SALURAN PENCERNAAN 2.1. EVOLUSI ANATOMI DAN FUNGSI RUMEN Ternak ruminasia memiliki keunikan dalam hal susunan saluran pencernaannya disebabkan karena adanya perkembangan pada bagian lambung menjadi empat rongga yang saling berhubungan yaitu, rumen, retikulum, omasum dan abomasum. Tiga rongga pertama seringkali merupakan ciri khas ternak ruminansia dimana pada bagian rumen dan retikulum terdapat miliaran mikroorganisme yang aktif melakukan fermentasi pakan. Sementara itu bagian omasum merupakan rongga tempat terjadinya penyerapan, terutama air yang terdapat pada digesta. Dalam pembahasan masalah lambung ternak ruminansia ini acapkali hanya disebutkan rumen untuk memudahkan penulisan meskipun yang dimaksud adalah membahas ketiga rongga lambung depan tersebut. Sedangkan bagian abomasum adalah serupa dengan lambung sejati pada ternak non-ruminansia lainnya. Studi tentang evolusi ternak ruminansia sebagai hewan herbivora (pemakan tumbuh-tumbuhan) menunjukkan bahwa ternak ruminansia dapat dibedakan menjadi tiga kelompok berdasarkan adaptasi terhadap jenis pakan yang dikonsumsinya, yaitu : pemilih konsentrat (concentrate selectors = CS), Intermediate (I) dan pemakan hijauan kasar (roughage eaters = RE). Kelompok CS disebut pula sebagai kelompok pemakan hijauan berkadar serat kasar rendah; kelompok I disebut pula sebagai pemakan hijauan berkadar serat kasar medium; dan kelompok RE disebut pula sebagai pemakan hijauan berkadar serat kasar tinggi. Diantara ketiga kelompok tersebut terdapat perbedaan dalam hal anatomi saluran pencernaannya mulai dari ukuran lidah, bentuk langit-langit rongga mulut, ukuran kelenjar saliva, bentuk dan ukuran papilla rumen serta panjang usus halus relatif terhadap panjang tubuh. Contoh ternak ruminansia yang tergolong ke dalam kelompok CS adalah kambing; kelompok intermediate adalah sapi perah; dan kelompok RE adalah domba dan kerbau. Trenak domba kita sebut sebagai selektip RE sedang kerbau adalah nonselektip RE karena meskipun sama-sama mampu untuk mengkonsumsi hijauan dengan kadar serat kasar tinggi, domba mempunyai naluri untuk melakukan seleksi terhadap hijauan yang dikonsumsi bila dibandingkan dengan kerbau. Gambar 1 berikut ini memberikan ilustrasi tentang proses evolusi perubahan jenis pakan yang lazim BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw dikonsumsi oleh ternak ruminansia.Gambar 1. Proses evolusi ternak ruminansia berkaitan dengan jenis pakan yang lazim dikonsumsi (Hofmann, 1982). 2.2. ANATOMI LAMBUNG Lambung ruminansia terdiri dari 4 bagian yaitu: rumen, reticulum, omasum dan abomasum. Tiga bagian pertama lambung dikenal sebagai lambung depan dan abomasum disebut pula sebagai lambung sejati. Lambung depan mempunyai fungsi BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw sangat penting sebagai tempat terjadinya fermentasi oleh mikroba, absorpsi dan sintesis protein mikroba.Sedangkan abomasum disebut sebagai lambung sejati karena baik secara anatomis maupun fisiologisnya sama dengan hewan berlambung tunggal. 2.2.1. RUMEN Rumen terletak di sebelah kiri rongga perut, memanjang dari rusuk 7 dan 8 sampai dengan tulang pinggang (pelvis) dan menempati lebih kurang 75 persen dari rongga perut. Bagian sebelah kiri rumen menempel pada diaphragma dan dinding kiri rongga perut serta limpa; sedangkan bagian sebelah kanan berhubungan dengan omasum, abomasum, usus, hati, pancreas, ginjal sebelah kiri, aorta serta cava posterior. Bagian dalam rumen dilapisi dengan papilla yang menyerupai papilla lidah dan berfungsi untuk memperluas lapisan permukaan untuk proses absorpsi. Bentuk dan ukuran papilla dipengaruhi oleh lama tinggal ingesta di dalam rumen sehingga pada bagian dorsal ukuran papilla rumen lebih pendek dari bagian ventral karena ingesta yang sukar dicerna akan tinggal di bagian ventral lebih lama. Rumen mempunyai empat kantong, yaitu: 􀁩 Cranial sac 􀁩 Dorsal sac 􀁩 Blind sac : - Dorso blind sac - Ventro-caudal blind sac 􀁩 Ventral sac Fungsi dari kantong-kantong tersebut adalah untuk gerakan-gerakan yang diperlukan selama terjadinya proses fermentasi. 2.2.2. RETICULUM Bagian dalam reticulum mempunyai tonjolan-tonjolan (papilla) yang menyerupai rumah tawon, berfungsi untuk absorpsi. Hal negatif yang dapat terjadi pada reticulum yaitu terjadinya Hard Ware Disease atau Traumatic Pericardiatic yakni bila makanan memngandung benda-benda asing dan benda-benda itu tidak masuk ke dalam High Density Zone tetapi masuk kedalam reticulum, karena adanya pergerakan reticulum benda-benda asing tersebut dapat menembus reiculum yang menyebabkan terjadinya radang. Dapat pula terejadi benda-benda tersebut menembus diaphragma sehingga terjadi pericarditis. BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw 2.2.3. OMASUM Omasum terletak di sebelah kanan garis median atau disebelah rusuk ke 7 - 11, berbentuk ellips dan dihubungkan dengan reticulum oleh saluran sempit dan pendek yang disebut orificium reticulo omasal. Bagian dalam omasum terdapat lembaran-lembaran atau laminae yang merupakan lipatan longitudinal dari bagian dalam omasum, membentuk lembaranlembaran seperti buku. Pada laminae terdapat tonjolan-tonjolan kecil yang disebut dengan papillae. 2.2.4. ABOMASUM Abomasum terletak di dasar rongga perut, merupakan bagian yang memanjang dekat rusuk ke 9-10. Terdiri dari tiga bagian, yaitu: 􀁩 Cardia, berhubungan dengan omasum 􀁩 Fundica, merupakan bagian terbesar 􀁩 Pylorica, merupakan bagian terkecil yang berhubungan dengan duodenum Bagian dalam omasum terdapat lipatan longitudinal atau ridges yang berfungsi untuk absorpsi. Serial ilustrasi tentang saluran alat pencernaan ternak ruminansia mulai dari bagian lamung depan hingga bagian usus halus dapat dilihat pada gambar 2 : BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw Gambar 2. Bagian lambung dan usus domba (Anonymous, 1971) Gambar 3. Peletakan internal lambung sapi dilihat dari sisi kiri tubuh.Ro=Orificum retikulo omasal;Ret = retikulum; F = lipatan retikulo omasal; C=cardia; G =reticular groove;Ap=cranial pillar;Pp=caudal pilar; Si=usus halus (Church, 1969). BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw Gambar 4. Peletakan internal lambung sapi dilihat dari sisi kanan. R=rumen (saccus ventralis);Ab=abomasum(bagian pylorus); Gb=kantong empedu; Om = omasum;L=liver; P=pancreas; D=duodenum; K=ginjal; RL=paru kanan Church, 1969). Gambar 5. Posisi reticular groove (3); rongga antara retikulum dan saccus cranialis (6- 6);ukuran relative saccus cranialis (7); cardia (2); cranial pillar (13); longitudinal pillar (15); bagian dorsal (16) dan ventral (12) coronary pillar (Church, 1969) BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw Gambar 6. Retikulum dan reticular groove pada sapi dalam kondisi menutup (kiri) dan membuka (kanan). Gambar sebelah kiri : A= bagian dorsal lipatan retikulo omasal; B=Oesophagus. gambar sebelah kanan ; A=cardia; B=Orificium retikulo omasal. Gambar 7. Penampang melintang omasum sapi yang menunjukkan kekompakan susunan papila yang berbentuk kitab (Church, 1969). BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw Gambar 8. Penampang melintang abomasum sapi. F=daerah fundika yang kaya akan kelenjar dengan lipatan-lipatan spiral besar; P=daerah pylorica; D=duodenum; 1=pylorus (Church, 1969) 2.3. ANATOMI SALURAN PENCERNAAN BAWAH Pada dasarnya anatomi dan fisiologi alat pencernaan bawah ruminansia sama dengan pada non-ruminansia. Ilustrasi saluran pencernaan bawah pada ternak ruminansia dapat dilihat pada Gambar 2 di atas. Bermula dari pilorus abomasum terus ke bagian pertama usus halus (duodenum) melewati bagian dorsal dan terus ke permukaan hati alat pencernaan bawah digantung oleh selaput tipis. Dibagian ini akan membentuk lengkungan seperti huruf S. Saluran empedu akan membuka di bagian ventral dari lengkungan huruf S,sedangkan kelenjar pankreas masuk sedikit di belakang masuknya kelenjar empedu. Bagian kedua usus halus adalah jejenum mengarah ke belakang dan kemudian ke depan membentuk fleksure ileum. Bagian terakhir usus halus diatur seperti kumparan yang terletak dipermukaan kanan dari saccus ventralis rumen, dibatasi di bagian lateral dan ventral oleh dinding abomasum, dibagian dorsal dibatasi oleh usus besar di bagian cranial dibatasi oleh omasum dan abomasum (Church, 1979). Bagian ujung ileum adalah lurus dan mengarah ke cranial diantara cecum dan colon dan menempel ke caecum dengan lipatan ileo-cecum. Cecum merupakan tabung berstruktur sederhana dengan blind end. Dibandingkan dengan herbivora, umumnya ruminansia mempunyai ceca lebih kecil. BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw Antara cecum dan colon tidak terdapat tanda yang jelas, tetapi letak katup ileo-cecum dapat dengan mudah dikenali. Secara umum kondisi usus besar dan cecum tidak berbeda dengan kondisi rumen, sehingga pada bagian inilah terjadi proses fermentasi kedua bagi pakan atau sel mikroba yang melewati usus besar dan cecum. Redox potensial di cecum dilaporkan sekitar -350 mV serta pH berkisar antara 6,5 - 7,0 (Mann and Orskov, 1973 dikutip oleh Harfoot, 1982). Meskipun demikian populasi bakteri di cecum dilaporkan hanya sekitar 2 x 1010/ml yang didominir oleh bakteri serupa dengan Bacteroides ruminicola yang terdapat dalam rumen. Produksi VFA juga lebih rendah di cecum daripada rumen yang umumnya mempunyai konsentrasi VFA antara 100 dan 150 mM. Laporan Ward et al 1961 yang dikutip oleh Harfoot (1982) menyebutkan bahwa konsentrasi VFA didalam usus besar dan cecum masing-masing adalah 60 mM dan 7 mM. VFA di dalam darah diperkirakan 30% berasal dari usus besar dan cecum, sedangkan yang berasal dari rumen adalah sekitar 70%. VFA yang terbentuk di cecum akan dengan cepat diangkut ke pembuluh darah melalui dinding cecum secara difusi. Disamping itu air juga diserap di usus besar dan cecum.

BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA
JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG
Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw
BAB II
ANATOMI SALURAN PENCERNAAN
2.1. EVOLUSI ANATOMI DAN FUNGSI RUMEN
Ternak ruminasia memiliki keunikan dalam hal susunan saluran pencernaannya
disebabkan karena adanya perkembangan pada bagian lambung menjadi empat rongga
yang saling berhubungan yaitu, rumen, retikulum, omasum dan abomasum. Tiga
rongga pertama seringkali merupakan ciri khas ternak ruminansia dimana pada bagian
rumen dan retikulum terdapat miliaran mikroorganisme yang aktif melakukan fermentasi
pakan. Sementara itu bagian omasum merupakan rongga tempat terjadinya
penyerapan, terutama air yang terdapat pada digesta. Dalam pembahasan masalah
lambung ternak ruminansia ini acapkali hanya disebutkan rumen untuk memudahkan
penulisan meskipun yang dimaksud adalah membahas ketiga rongga lambung depan
tersebut. Sedangkan bagian abomasum adalah serupa dengan lambung sejati pada
ternak non-ruminansia lainnya.
Studi tentang evolusi ternak ruminansia sebagai hewan herbivora (pemakan
tumbuh-tumbuhan) menunjukkan bahwa ternak ruminansia dapat dibedakan menjadi
tiga kelompok berdasarkan adaptasi terhadap jenis pakan yang dikonsumsinya, yaitu :
pemilih konsentrat (concentrate selectors = CS), Intermediate (I) dan pemakan hijauan
kasar (roughage eaters = RE). Kelompok CS disebut pula sebagai kelompok pemakan
hijauan berkadar serat kasar rendah; kelompok I disebut pula sebagai pemakan hijauan
berkadar serat kasar medium; dan kelompok RE disebut pula sebagai pemakan hijauan
berkadar serat kasar tinggi. Diantara ketiga kelompok tersebut terdapat perbedaan
dalam hal anatomi saluran pencernaannya mulai dari ukuran lidah, bentuk langit-langit
rongga mulut, ukuran kelenjar saliva, bentuk dan ukuran papilla rumen serta panjang
usus halus relatif terhadap panjang tubuh.
Contoh ternak ruminansia yang tergolong ke dalam kelompok CS adalah
kambing; kelompok intermediate adalah sapi perah; dan kelompok RE adalah domba
dan kerbau. Trenak domba kita sebut sebagai selektip RE sedang kerbau adalah nonselektip
RE karena meskipun sama-sama mampu untuk mengkonsumsi hijauan dengan
kadar serat kasar tinggi, domba mempunyai naluri untuk melakukan seleksi terhadap
hijauan yang dikonsumsi bila dibandingkan dengan kerbau. Gambar 1 berikut ini
memberikan ilustrasi tentang proses evolusi perubahan jenis pakan yang lazim
BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA
JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG
Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw
dikonsumsi oleh ternak ruminansia.Gambar 1. Proses evolusi ternak ruminansia
berkaitan dengan jenis
pakan yang lazim dikonsumsi (Hofmann, 1982).
2.2. ANATOMI LAMBUNG
Lambung ruminansia terdiri dari 4 bagian yaitu: rumen, reticulum, omasum dan
abomasum. Tiga bagian pertama lambung dikenal sebagai lambung depan dan
abomasum disebut pula sebagai lambung sejati. Lambung depan mempunyai fungsi
BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA
JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG
Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw
sangat penting sebagai tempat terjadinya fermentasi oleh mikroba, absorpsi dan sintesis
protein mikroba.Sedangkan abomasum disebut sebagai lambung sejati karena baik
secara anatomis maupun fisiologisnya sama dengan hewan berlambung tunggal.
2.2.1. RUMEN
Rumen terletak di sebelah kiri rongga perut, memanjang dari rusuk 7 dan 8
sampai dengan tulang pinggang (pelvis) dan menempati lebih kurang 75 persen dari
rongga perut. Bagian sebelah kiri rumen menempel pada diaphragma dan dinding kiri
rongga perut serta limpa; sedangkan bagian sebelah kanan berhubungan dengan
omasum, abomasum, usus, hati, pancreas, ginjal sebelah kiri, aorta serta cava posterior.
Bagian dalam rumen dilapisi dengan papilla yang menyerupai papilla lidah dan
berfungsi untuk memperluas lapisan permukaan untuk proses absorpsi. Bentuk dan
ukuran papilla dipengaruhi oleh lama tinggal ingesta di dalam rumen sehingga pada
bagian dorsal ukuran papilla rumen lebih pendek dari bagian ventral karena ingesta
yang sukar dicerna akan tinggal di bagian ventral lebih lama.
Rumen mempunyai empat kantong, yaitu:
􀁩 Cranial sac
􀁩 Dorsal sac
􀁩 Blind sac : - Dorso blind sac
- Ventro-caudal blind sac
􀁩 Ventral sac
Fungsi dari kantong-kantong tersebut adalah untuk gerakan-gerakan yang
diperlukan selama terjadinya proses fermentasi.
2.2.2. RETICULUM
Bagian dalam reticulum mempunyai tonjolan-tonjolan (papilla) yang menyerupai
rumah tawon, berfungsi untuk absorpsi. Hal negatif yang dapat terjadi pada reticulum
yaitu terjadinya Hard Ware Disease atau Traumatic Pericardiatic yakni bila makanan
memngandung benda-benda asing dan benda-benda itu tidak masuk ke dalam High
Density Zone tetapi masuk kedalam reticulum, karena adanya pergerakan reticulum
benda-benda asing tersebut dapat menembus reiculum yang menyebabkan terjadinya
radang. Dapat pula terejadi benda-benda tersebut menembus diaphragma sehingga
terjadi pericarditis.
BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA
JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG
Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw
2.2.3. OMASUM
Omasum terletak di sebelah kanan garis median atau disebelah rusuk ke 7 - 11,
berbentuk ellips dan dihubungkan dengan reticulum oleh saluran sempit dan pendek
yang disebut orificium reticulo omasal.
Bagian dalam omasum terdapat lembaran-lembaran atau laminae yang
merupakan lipatan longitudinal dari bagian dalam omasum, membentuk lembaranlembaran
seperti buku. Pada laminae terdapat tonjolan-tonjolan kecil yang disebut
dengan papillae.
2.2.4. ABOMASUM
Abomasum terletak di dasar rongga perut, merupakan bagian yang memanjang
dekat rusuk ke 9-10. Terdiri dari tiga bagian, yaitu:
􀁩 Cardia, berhubungan dengan omasum
􀁩 Fundica, merupakan bagian terbesar
􀁩 Pylorica, merupakan bagian terkecil yang berhubungan dengan duodenum
Bagian dalam omasum terdapat lipatan longitudinal atau ridges yang berfungsi untuk
absorpsi.
Serial ilustrasi tentang saluran alat pencernaan ternak ruminansia mulai dari
bagian lamung depan hingga bagian usus halus dapat dilihat pada gambar 2 :
BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA
JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG
Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw
Gambar 2. Bagian lambung dan usus domba (Anonymous, 1971)
Gambar 3. Peletakan internal lambung sapi dilihat dari sisi kiri tubuh.Ro=Orificum
retikulo omasal;Ret = retikulum; F = lipatan retikulo omasal;
C=cardia; G =reticular groove;Ap=cranial pillar;Pp=caudal pilar;
Si=usus halus (Church, 1969).
BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA
JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG
Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw
Gambar 4. Peletakan internal lambung sapi dilihat dari sisi kanan. R=rumen (saccus
ventralis);Ab=abomasum(bagian pylorus); Gb=kantong empedu;
Om = omasum;L=liver; P=pancreas; D=duodenum; K=ginjal; RL=paru kanan
Church, 1969).
Gambar 5. Posisi reticular groove (3); rongga antara retikulum dan saccus cranialis (6-
6);ukuran relative saccus cranialis (7); cardia (2); cranial pillar (13);
longitudinal pillar (15); bagian dorsal (16) dan ventral (12) coronary pillar
(Church, 1969)
BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA
JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG
Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw
Gambar 6. Retikulum dan reticular groove pada sapi dalam kondisi menutup (kiri) dan
membuka (kanan). Gambar sebelah kiri : A= bagian dorsal lipatan retikulo
omasal; B=Oesophagus. gambar sebelah kanan ; A=cardia; B=Orificium
retikulo omasal.
Gambar 7. Penampang melintang omasum sapi yang menunjukkan kekompakan
susunan papila yang berbentuk kitab (Church, 1969).
BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA
JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG
Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw
Gambar 8. Penampang melintang abomasum sapi. F=daerah fundika yang kaya akan
kelenjar dengan lipatan-lipatan spiral besar; P=daerah pylorica;
D=duodenum; 1=pylorus (Church, 1969)
2.3. ANATOMI SALURAN PENCERNAAN BAWAH
Pada dasarnya anatomi dan fisiologi alat pencernaan bawah ruminansia sama
dengan pada non-ruminansia. Ilustrasi saluran pencernaan bawah pada ternak
ruminansia dapat dilihat pada Gambar 2 di atas.
Bermula dari pilorus abomasum terus ke bagian pertama usus halus (duodenum)
melewati bagian dorsal dan terus ke permukaan hati alat pencernaan bawah digantung
oleh selaput tipis. Dibagian ini akan membentuk lengkungan seperti huruf S. Saluran
empedu akan membuka di bagian ventral dari lengkungan huruf S,sedangkan kelenjar
pankreas masuk sedikit di belakang masuknya kelenjar empedu. Bagian kedua usus
halus adalah jejenum mengarah ke belakang dan kemudian ke depan membentuk
fleksure ileum. Bagian terakhir usus halus diatur seperti kumparan yang terletak
dipermukaan kanan dari saccus ventralis rumen, dibatasi di bagian lateral dan ventral
oleh dinding abomasum, dibagian dorsal dibatasi oleh usus besar di bagian cranial
dibatasi oleh omasum dan abomasum (Church, 1979).
Bagian ujung ileum adalah lurus dan mengarah ke cranial diantara cecum dan
colon dan menempel ke caecum dengan lipatan ileo-cecum.
Cecum merupakan tabung berstruktur sederhana dengan blind end.
Dibandingkan dengan herbivora, umumnya ruminansia mempunyai ceca lebih kecil.
BAHAN KULIAH NUTRISI RUMINANSIA
JURUSAN NUTRISI & MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG
Hendrawan Soetanto – Fapet Unibraw
Antara cecum dan colon tidak terdapat tanda yang jelas, tetapi letak katup ileo-cecum
dapat dengan mudah dikenali.
Secara umum kondisi usus besar dan cecum tidak berbeda dengan kondisi
rumen, sehingga pada bagian inilah terjadi proses fermentasi kedua bagi pakan atau sel
mikroba yang melewati usus besar dan cecum. Redox potensial di cecum dilaporkan
sekitar -350 mV serta pH berkisar antara 6,5 - 7,0 (Mann and Orskov, 1973 dikutip oleh
Harfoot, 1982).
Meskipun demikian populasi bakteri di cecum dilaporkan hanya sekitar 2 x
1010/ml yang didominir oleh bakteri serupa dengan Bacteroides ruminicola yang terdapat
dalam rumen. Produksi VFA juga lebih rendah di cecum daripada rumen yang umumnya
mempunyai konsentrasi VFA antara 100 dan 150 mM. Laporan Ward et al 1961 yang
dikutip oleh Harfoot (1982) menyebutkan bahwa konsentrasi VFA didalam usus besar
dan cecum masing-masing adalah 60 mM dan 7 mM. VFA di dalam darah diperkirakan
30% berasal dari usus besar dan cecum, sedangkan yang berasal dari rumen adalah
sekitar 70%.
VFA yang terbentuk di cecum akan dengan cepat diangkut ke pembuluh darah
melalui dinding cecum secara difusi. Disamping itu air juga diserap di usus besar dan
cecum.